LABUAN BAJO – Materi penting tentang teknik interpretasi dan storytelling menjadi sorotan dalam hari pertama kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) calon pramuwisata Indonesia Kabupaten Manggarai Barat yang digelar pada Senin, 16 Maret 2026.

Materi kedua ini dibawakan oleh pramuwisata senior sekaligus Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat periode 2001–2005, Ary Daru. Dalam pemaparannya, Ary menekankan bahwa kemampuan storytelling dan interpretasi merupakan inti dari kompetensi seorang pramuwisata profesional.

“Seorang pramuwisata tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Ia harus mampu menghidupkan cerita, menghadirkan pengalaman, dan membuat wisatawan merasa terhubung dengan destinasi yang dikunjungi,” ujar Ary Daru.

Ia menjelaskan bahwa storytelling dalam kepemanduan wisata bukan sekadar bercerita, melainkan seni menyampaikan narasi yang terstruktur, menarik, dan memiliki emosi. Cerita yang dibangun harus mampu menggambarkan sejarah, budaya, hingga nilai lokal dari suatu destinasi secara hidup dan mudah dipahami wisatawan.

“Storytelling adalah jembatan antara informasi dan pengalaman. Dengan cerita yang kuat, wisatawan tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan makna dari setiap tempat yang mereka kunjungi,” tambahnya.

Sementara itu, kemampuan interpretasi dalam kepemanduan wisata merupakan proses menerjemahkan fakta, data, dan fenomena menjadi informasi yang bermakna. Seorang pramuwisata dituntut mampu menjelaskan tidak hanya ‘apa’ yang dilihat, tetapi juga ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ suatu objek wisata memiliki nilai penting.

Menurut Ary, interpretasi yang baik akan membuat wisatawan memahami konteks historis, budaya, hingga kearifan lokal yang melekat pada destinasi, khususnya di kawasan pariwisata unggulan seperti Labuan Bajo.

“Interpretasi yang kuat akan membuat wisatawan mendapatkan pengalaman yang utuh, bukan sekadar kunjungan biasa. Inilah yang membedakan pramuwisata profesional dengan yang biasa,” tegasnya.

Materi ini juga menekankan bahwa unit kompetensi “on tour” menjadi salah satu kompetensi inti yang wajib dimiliki oleh setiap pramuwisata. Dalam praktiknya, kemampuan ini mencakup cara berkomunikasi efektif, mengelola alur cerita selama perjalanan, hingga membangun interaksi yang berkesan dengan wisatawan.

Melalui pengalaman panjang Arie Daru di dunia kepemanduan wisata, para peserta Diklat dibekali pemahaman mendalam tentang bagaimana merancang dan menyampaikan cerita yang tidak hanya informatif, tetapi juga edukatif dan inspiratif.

Diharapkan, melalui penguasaan teknik storytelling dan interpretasi ini, para calon pramuwisata di Manggarai Barat mampu meningkatkan kualitas pelayanan wisata, serta memperkuat citra Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang kaya akan cerita dan makna.

 

Editor : Chellz