Warga mengungsi di Kampung Lokasobo ( foto : Antonius)

Warga Desa Ladolima Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dilanda kepanikan hingga mengungsi setelah muncul fenomena alam yang tidak biasa berupa mata air baru disertai retakan tanah yang terus melebar pada Rabu, (18/3).

Salah satu warga, Antonius Towa, mengungkapkan bahwa tanda-tanda awal sudah terlihat sejak November 2025, ketika muncul mata air sekitar 100 meter di atas kampung. Namun situasi berubah drastis dalam beberapa hari terakhir.

“Kemarin (Rabu) sekitar jam 11 siang, ada warga yang sedang petik kakao mendengar bunyi gemuruh,” ujar Antonius.

Warga yang mendengar suara tersebut langsung panik dan bergegas menuju lokasi sumber air. Namun, setibanya di sana, aliran air tiba-tiba berhenti. Saat ditelusuri lebih lanjut, ditemukan retakan tanah dengan lebar sekitar 10 hingga 15 sentimeter dan panjang mencapai 20 meter.

Kondisi tersebut semakin memburuk pada malam hari. Retakan tanah melebar hingga sekitar 1 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Selain itu, muncul mata air baru dengan debit cukup besar yang mengalir hingga masuk ke area kampung.

“Airnya semakin besar dan masuk ke kampung, warga jadi panik,” kata Antonius.

Situasi yang semakin tidak terkendali membuat warga memutuskan untuk mengungsi pada dini hari sekitar pukul 01.00 WITA. Sedikitnya dua dusun, yakni Kampung Boamuri dan Oja, terdampak langsung oleh kejadian ini.

“Sekitar 50 kepala keluarga atau kurang lebih 300 jiwa sudah mengungsi,” jelasnya.

Para warga mengungsi ke Kampung Lokasobo dan sementara tinggal di rumah-rumah warga setempat. Dalam kondisi darurat, para pengungsi hanya sempat membawa barang-barang penting seperti pakaian, kendaraan, dan surat-surat berharga.

Pihak warga juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Antonius menyebutkan bahwa mereka telah menghubungi Wakil Bupati Nagekeo, yang kemudian meminta agar laporan resmi segera disampaikan kepada Bupati untuk penanganan lebih lanjut.

Hingga saat ini, kondisi warga masih diliputi kecemasan, terutama karena retakan tanah dan munculnya mata air baru belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Selain itu, para pengungsi juga menghadapi keterbatasan logistik.

“Warga masih sangat cemas dan sekarang membutuhkan bantuan, terutama makanan dan minuman,” tutup Antonius.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah cepat untuk memastikan keselamatan warga serta memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.