
Nagekeo – Sore itu, langit seperti ikut menunduk hening di atas tanah Lape Penginanga. Angin yang berembus pelan dengan sedikit hawa panas yang membuat peluh membawa gema masa lalu tentang lonceng yang pernah dipukul bersama, doa-doa yang pernah dilantunkan dalam sunyi, dan langkah-langkah muda yang dulu ditempa dalam disiplin iman di Seminari St Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko.
Di altar yang serupa, di Kapela Stasi St Maria Dolorosa Penginanga, Lape, ratusan alumni yang menyimpan banyak jejak panggilan lintas generasi berkumpul. Dari angkatan 1965 hingga 2018, mereka datang sebagian menggandeng istri dan anak, sebagian lagi membawa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Acara pengukuhan pengurus Ikatan Alumni Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko diawali dengan misa kudus yang berlangsung khidmat. Sepuluh imam konselebran yang juga alumni seminari berdiri di sekitar altar, dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Ende, Romo Fery Dedhu.
Di antara mereka hadir sosok-sosok yang tak asing bagi sejarah panjang seminari itu, Romo Preases Rd. Stefanus Wolo, Romo Vikep Mbay Aster Lado, Romo Paulus Bongu, serta imam tertua yang telah menapaki 46 tahun perjalanan imamatnya.
Sehari sebelumnya, para alumni yang tergabung dalam Alsemat telah lebih dahulu menyatu dalam ritus adat sebuah penanda bahwa iman dan budaya tetap berjalan beriringan, saling menghidupi.
Ketika misa berlangsung, suasana berubah menjadi lautan rasa. Paduan suara yang dilantunkan para alumni menggema, mengalir, dan kadang menggelegar, seolah menembus dinding-dinding kenangan. Iringan organ dari Tan Lape mengikat semuanya dalam harmoni yang nyaris sempurna. Decak kagum mengalir dari para alumni yang menghadiri misa serta tepuk tangan pecah setelah lagu post komunio ini bukan untuk mengganggu kekhusyukan, melainkan sebagai ekspresi kagum yang tak terbendung memgingatkan akan semangat ketika ditempa di Mataloko.
Di hadapan altar, dengan penumpangan tangan dari sepuluh konselebran, para pengurus dikukuhkan. Mereka mengucapkan janji, bukan sekadar sebagai formalitas organisasi, tetapi sebagai ikrar batin sebuah kesediaan untuk kembali berjalan dalam jalan panggilan.
Dalam homilinya, Romo Fery Dedhu menegaskan bahwa perayaan itu adalah perjumpaan antara kenangan dan perutusan.
“Ini bukan sekadar hari pengukuhan, ini adalah peristiwa rahmat sebuah panggilan yang pernah bersemi, kini hidup kembali.” katanya.
Ia mengingatkan bahwa jabatan bukanlah mahkota kehormatan, melainkan salib.
“Bukan untuk ketenaran pribadi, tetapi peluang untuk menyembah Tuhan dan melayani sesama. Kristus datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun dalam. Mengendap. Menyentuh.
Romo Fery juga menyampaikan pengukuhan ini bukan hanya kenangan lonceng bersama, doa bersama yg kali ini disiram dan kali ini akhirnya berbuah.
Para pengurus, lanjutnya, tidak hanya dipanggil untuk menkoordinir, tetapi untuk mencintai membangun persekutuan, menumbuhkan kesetiaan, dan menjelma menjadi suara kebenaran di tengah masyarakat.
“Tuhan memanggil kita bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk setia,” ujarnya.
Menjelang satu abad Seminari Mataloko tahun depan, ia mengajak semua alumni untuk tidak sekadar menjadi penonton sejarah.
“Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari kisah itu. Biarlah setiap langkah hidup kita menjadi nyanyian syukur.”
Selepas misa, suasana bergeser menjadi lebih hangat. Di Aula Stasi St. Maria Penginanga, para alumni kembali berkumpul dalam ramah tamah dan resepsi. Tawa, sapaan lama, dan cerita yang terputus oleh waktu kini menemukan jalannya kembali.
Hadir pula Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, yang dengan gaya khasnya menyampaikan kekaguman terhadap para alumni seminari. Simplisius menilai malam ini seperti sebuah penebusan dari bincangnya dengan Gubernur NTT Melki Laka Lena, yang sempat berseloroh lewat ucapanya tentang Alumni Seminari Mataloko yang banyak membuat peringkat Kabupaten Nagekeo selalu terbaik dari segala penilaian provinsi.
“Kehadiran saya malam ini menghapus rasa berdosa dengan bapa gubernur, ”
” Dalam pertemuan dgn gubernur, dia menanyakan Nagekeo tidak apa-apanya namun selalu dalam penilaian selalu dapat peringkat. Supaya bapa gubernur tau rata-rata banyak Alsemat yang menduduki posisi penting, saya berdosa saya kira omong salah namun ternyata malam ini terbukti. Rasa berdosa saya ini terhapus, ” ungkapnya.
Simplisius menegaskan bahwa kualitas pribadi yang baik adalah kunci perutusan.
“Orang baik pasti peduli. Dan saya pengagum orang baik. Banyak orang baik itu lahir dari seminari.” tegasnya menunjuk salah satu Alumni Seminari Mataloko, Agus Fernandes mantan pejabat asisten bupati yang kini telah pensiun.
Untuk diketahui beberapa petinggi seperti Ketua Bawaslu Nagekeo Joe Nane, Ketua KPU Nagekeo, Fransiskus Huber Waso, mantan Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do serta Mantan Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja adalah juga Alumni Seminari Mataloko juga .
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni, Rano Aoh (angkatan 1989), menyebut organisasi ini sebagai “pipa”, saluran yang menghubungkan potensi besar para alumni untuk mengalir ke gereja, masyarakat, dan almamater.
“Tantangan terbesar adalah mengumpulkan semua alumni. Tapi ini saatnya kita mentransformasi potensi yang ada,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa angkatan 1988 diberi tanggung jawab untuk mengembangkan unit usaha dan yayasan sebuah langkah konkret menuju kemandirian organisasi.
Di sisi lain, Ketua Dewan Pembina, Elpi Parera (angkatan 1965), menekankan pentingnya konsolidasi.
“Kita perlu menjaring seluruh alumni, khususnya di Kevikepan Mbay dan Kabupaten Nagekeo. Ini kekuatan besar untuk menjawab harapan Uskup.”
Ia menyebut para alumni sebagai kumpulan intelektual yang mampu melahirkan kajian komprehensif.
“Intelektual adalah fondasi dan benteng. Tapi kuncinya tetap komitmen karena kita terikat bukan karena terpaksa, tetapi karena ikhlas.”
Nada reflektif juga datang dari Romo Praeses Seminari, Rd. Stefanus Wolo. Ia menggambarkan kondisi almamater dengan jujur.
“Ibu kita ini sudah tua dan lelah. Banyak yang bocor,” ujarnya, menyiratkan kebutuhan mendesak untuk perhatian dan pembenahan.
Saat ini, seminari memiliki 13 imam dan 5 frater angka yang menjadi harapan sekaligus tantangan.
Malam itu, di bawah cahaya lampu aula serta suara elegan yang menggema master of ceremony Rian Depa dengan podium yang ditata secara apik oleh Ciu Kleopas, Avan Wogo, Riswan Dapa serta para alumni yang bahu membahu sesuatu terasa bergerak, serasa kerja PU di Seminari Matoloko dalam pementasan drama dan musik memunculkan kenangan akan aula Seminari Mataloko di unit B tempat rekreasi bersama. Bukan hanya organisasi yang terbentuk, tetapi kesadaran yang tumbuh bahwa panggilan tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
Dan dari Mataloko, dari altar yang sama dan suara yang sama, dari lonceng vesper dan complete kisah itu kembali dimulai pelan, namun pasti secara epik. Seperti gerakan kaki pelan dan pasti dalam keharmonisan dalam baris dalam ja’i para alumni ini di aula tersebut.


Tinggalkan Balasan