Catatan Redaksi

INDONESIA kehilangan seorang pemikir, pendidik, dan rohaniwan yang selama hidupnya memilih untuk tidak sekadar berdiri di altar, tetapi juga turun ke ruang-ruang sosial yang paling sunyi.

Romo Mudji Sutrisno telah berpulang. Namun gagasan, keberpihakan, dan keberaniannya untuk bersuara akan terus hidup dalam ingatan publik.

Romo Mudji bukan tipe rohaniwan yang nyaman bersembunyi di balik dogma. Ia adalah imam yang berpikir, menulis, dan bertindak. Ia percaya bahwa iman tidak boleh berhenti pada ritus, melainkan harus menjelma menjadi keberanian membela martabat manusia—terutama mereka yang sering kali terpinggirkan oleh sistem, kekuasaan, dan ketidakadilan.

Dalam banyak tulisannya, Romo Mudji kerap mengingatkan bahwa kemanusiaan adalah titik temu semua perbedaan. Baginya, agama bukan alat legitimasi kekuasaan, melainkan cahaya untuk mengkritik ketidakadilan. Ia bersuara lantang ketika suara-suara lain memilih diam. Ia menulis ketika banyak orang takut dianggap berbeda. Dan ia tetap konsisten, bahkan ketika sikap kritisnya kerap disalahpahami.

Sebagai intelektual, Romo Mudji memosisikan diri sebagai jembatan antara iman, kebudayaan, dan realitas sosial. Ia tidak anti-modernitas, namun juga tidak menelannya mentah-mentah. Ia mengajak umat dan masyarakat luas untuk berpikir kritis, berempati, dan tidak kehilangan nurani di tengah arus pragmatisme dan politik identitas yang kian mengeras.

Kepergian Romo Mudji meninggalkan ruang kosong yang terasa nyata. Di tengah krisis teladan, bangsa ini kehilangan sosok yang berani berkata benar tanpa harus berteriak, yang memilih argumentasi ketimbang agitasi, dan yang menjadikan kasih sebagai fondasi perlawanan terhadap ketidakadilan.

Namun warisan Romo Mudji tidak ikut dimakamkan. Ia hidup dalam teks-teks yang ia tulis, dalam murid-murid yang pernah ia bentuk, dan dalam keberanian moral yang ia tanamkan pada banyak orang. Tugas kita hari ini bukan sekadar mengenang, melainkan melanjutkan semangatnya: berpihak pada kemanusiaan, menjaga nalar, dan merawat harapan.

Selamat jalan, Romo Mudji Sutrisno. Suaramu mungkin telah senyap, tetapi gema pemikiranmu akan terus mengingatkan bangsa ini bahwa iman, jika sungguh hidup, selalu berdiri di sisi manusia.

Chellz Pahun