LABUAN BAJO — Prosesi Jalan Salib di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo pada Jumat Agung tahun ini menghadirkan refleksi iman yang lebih kontekstual dengan menyoroti krisis ekologis yang kian mengemuka. Umat tidak hanya diajak mengenang sengsara Yesus Kristus, tetapi juga merenungkan relasi manusia dengan alam

Tablo dihadirkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) tidak hanya mengisahkan tentang penangkapan hingga kematian Yesus tetapi menjadi permenungan atas kerusakan lingkungan. Kehadirannya menyatu dalam setiap perhentian Jalan Salib, memperkuat pesan bahwa penderitaan alam merupakan bagian dari realitas salib yang dihadapi manusia masa kini.

Prosesi yang menempuh jarak sekitar dua kilometer itu berlangsung dalam suasana hening dan penuh penghayatan. Umat dari berbagai kalangan berjalan kaki mengikuti setiap perhentian dengan membawa intensi doa, tidak hanya bagi kehidupan pribadi, tetapi juga bagi keselamatan ciptaan yang semakin terancam.

Keterlibatan OMK menjadi penanda penting dalam dinamika refleksi ini. Kaum muda tampil sebagai motor penggerak yang menghadirkan pendekatan simbolik dan kreatif dalam menyuarakan kepedulian ekologis. Jalan Salib pun tidak lagi dimaknai semata sebagai peristiwa historis, tetapi sebagai ajakan membaca tanda-tanda zaman.

Gagasan pertobatan ekologis yang mengemuka dalam prosesi ini sejalan dengan arah pastoral Keuskupan Labuan Bajo. Uskup Labuan Bajo, Maximus Regus, dalam Surat Gembalanya menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari krisis iman manusia.

“Pertobatan ekologis adalah panggilan iman yang tidak bisa ditunda. Kita tidak hanya diminta berdoa, tetapi juga mengubah cara hidup agar lebih selaras dengan kehendak Allah dalam menjaga ciptaan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan menyentuh dimensi moral dan spiritual manusia. “Krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukan sekadar persoalan alam, tetapi persoalan moral dan spiritual. Ini menyangkut bagaimana manusia memandang dan memperlakukan anugerah Tuhan,” lanjutnya.

Menurutnya, Jalan Salib menjadi momentum refleksi yang kuat untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam. “Jalan Salib mengingatkan kita bahwa penderitaan Kristus terus hadir dalam wajah bumi yang terluka. Merawat alam berarti ikut mengambil bagian dalam karya penebusan itu,” ujarnya.

Uskup juga menekankan pentingnya perubahan gaya hidup sebagai bentuk nyata pertobatan. “Kita dipanggil untuk meninggalkan pola hidup yang eksploitatif dan membangun gaya hidup yang sederhana, bertanggung jawab, dan berkelanjutan sebagai wujud iman yang hidup,” katanya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pertobatan sejati harus menyentuh seluruh relasi kehidupan. “Pertobatan sejati tidak berhenti pada relasi dengan Tuhan, tetapi harus nyata dalam relasi dengan sesama dan seluruh ciptaan. Di situlah iman menemukan maknanya yang utuh,” tuturnya.

Melalui prosesi yang sederhana namun sarat makna ini, Gereja di Labuan Bajo menegaskan bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab ekologis. Jalan Salib menjadi ruang perjumpaan antara spiritualitas dan realitas, sekaligus ajakan konkret bagi umat untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.*