MANGGARAI TIMUR – Krisis air bersih kembali menghantui warga Kampung Ranameti, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Setiap hari, warga terpaksa berjalan kaki sejauh kurang lebih dua kilometer menembus hutan demi mendapatkan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Satu-satunya sumber air yang masih dapat diakses warga adalah Lawen, sebuah pancuran alami yang berada di kawasan hutan. Untuk mencapainya, warga harus melewati jalan sempit dan menanjak dengan waktu tempuh yang bisa memakan waktu berjam-jam. Kondisi ini semakin berat karena debit air yang terbatas dan jumlah pancuran yang sangat minim.
Nobertus Anggal, warga Kampung Ranameti, mengungkapkan bahwa di sumber air Lawen hanya terdapat dua pancuran kecil yang digunakan secara bersama oleh warga dari beberapa kampung. Situasi tersebut membuat antrean panjang tak terhindarkan.
“Kalau sudah sampai di sana, kami masih harus antre. Kadang bisa menunggu dua sampai tiga jam baru dapat giliran,” ujar Nobertus.
Ironisnya, persoalan air bersih di Kampung Ranameti sebenarnya sempat diklaim telah teratasi. Beberapa tahun lalu, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur mengalokasikan anggaran untuk proyek Air Minum Bersih (AMB) yang melayani Kampung Ranameti, Roko, Koki, dan Rasan.
Proyek tersebut memanfaatkan sumber air dari Kobok dan dibangun dengan jaringan pipa untuk menyalurkan air langsung ke permukiman warga. Namun dalam pelaksanaannya, sistem distribusi kerap mengalami gangguan. Pipa air sering putus dan rusak, menyebabkan aliran air terhenti dalam waktu lama tanpa perbaikan yang memadai.
Akibat kondisi itu, warga kembali bergantung pada sumber air alami di hutan, meski harus menempuh jarak jauh serta menghadapi risiko kelelahan dan keselamatan.
Proyek AMB Terbengkalai
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa jaringan pipa dan sejumlah fasilitas pendukung proyek AMB masih terlihat di beberapa titik. Sayangnya, sarana tersebut tampak tidak terurus. Banyak pipa yang terlepas, rusak, bahkan terputus tanpa adanya pemeliharaan berkelanjutan.
Warga menilai proyek AMB tersebut bukan sepenuhnya gagal, melainkan terbengkalai akibat minimnya perawatan dan pengawasan. Mereka berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur segera turun tangan melakukan perbaikan serius dan menyeluruh.
Selain untuk menyelamatkan investasi anggaran daerah, warga menegaskan bahwa pemulihan layanan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditunda. Air bersih yang layak dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama bagi kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup masyarakat Ranameti dan sekitarnya.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan