PAGI yang berkabut di Kampung Rangat, Bukit Toto Ninu berdiri tenang. Dari kejauhan, ia tampak seperti bukit biasa di pinggir jalan Labuan Bajo–Sanonggoang. Namun bagi warga setempat, bukit ini adalah penjaga sejarah, iman, dan identitas, sesuatu yang tak tergantikan oleh aspal atau beton.
Bukit Toto Ninu, yang sejak lama dikenal sebagai Bukit Pers, bukan sekadar bentang alam. Di punggungnya berdiri Gua Maria, Gua Kristus Raja, serta Watu Toto Ninu, situs budaya yang disakralkan secara turun-temurun oleh masyarakat adat Rangat. Setiap doa, ziarah, dan ritual adat mengikat hubungan batin warga dengan bukit itu.
Namun, ketenangan tersebut kini terusik oleh deru ekskavator.
Luka Lama Sejak 2017
Longsor pertama terjadi pada 2017. Jalan terputus. Janji perbaikan datang silih berganti. Namun hingga kini, aspal tak pernah kembali utuh. Yang datang justru alat berat, menggali sisi bukit, menggeser badan jalan, dan perlahan mengikis lereng yang selama ini menopang situs-situs sakral di atasnya.
“Sejak awal, penanganannya keliru,” kata Aleksander Jui, Ketua Dewan Stasi St. Yosep Rangat, dengan nada lirih namun tegas.
Menurut Aleksander, solusi yang diambil pemerintah justru menghilangkan tembok penahan tanah yang sebelumnya menjaga stabilitas bukit. Setiap musim hujan, longsor kembali terjadi lebih besar, lebih dalam.
“Bukannya menyembuhkan luka, ini seperti membuka luka baru setiap tahun,” ujarnya.
Bukit Pers dan Ingatan Kolektif
Nama Bukit Pers bukan datang tiba-tiba. Pada 2008 dan kembali pada 2013, bukit ini dihijaukan melalui gerakan penanaman pohon mahoni oleh Perhimpunan Wartawan Manggarai Barat (PWMB) bersama Dinas Kehutanan. Warga ikut menanam, merawat, dan menjaga.
Bagi masyarakat Rangat, penghijauan itu adalah ikrar bersama: bukit ini harus hidup, bukan dilukai.
Kini, ikrar itu terasa terancam.
“Pohon-pohon yang kami tanam belasan tahun lalu kini berada di bibir longsor,” tutur seorang warga tua sambil menunjuk lereng yang tergerus.
Tanggap Darurat yang Kehilangan Nurani
Aleksander menyebut kehadiran alat berat sebagai bentuk tanggap darurat yang kehilangan empati. Fokusnya hanya membuka akses jalan, tanpa menghitung dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan nilai sakral.
“Kalau bukit ini runtuh, yang hilang bukan hanya tanah. Yang runtuh adalah iman kami, sejarah kami,” katanya.
Ia menegaskan, warga tidak menolak pembangunan. Jalan perlu diperbaiki. Akses ekonomi dan keselamatan juga penting. Namun pembangunan, menurutnya, tidak boleh dibayar dengan kehancuran warisan budaya dan tempat ibadah.
Ketukan pada Hati Nurani
Melalui surat terbuka kepada Bupati Manggarai Barat dan Kepala Dinas PUPR, warga Rangat menyampaikan empat tuntutan sederhana: hentikan alat berat, bangun kembali tembok penahan, hormati penghijauan, dan jangan jadikan tanggap darurat sebagai alat perusakan.
Lebih dari sekadar tuntutan, surat itu adalah ketukan pada hati nurani kekuasaan.
“Kami sudah terlalu lama menelan janji,” ujar Aleksander. “Tapi yang tidak bisa kami telan adalah penghancuran iman dan budaya kami sendiri.”
Antara Aspal dan Identitas
Di Bukit Toto Ninu, konflik ini bukan sekadar soal teknis pembangunan. Ia adalah pertarungan antara kecepatan dan kebijaksanaan, antara aspal dan identitas.
Saat matahari mulai condong ke barat, bayangan Gua Maria memanjang di lereng bukit. Di sanalah warga Rangat berharap: agar pemerintah berhenti sejenak, mendengar, dan memilih jalan yang tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menghormati jiwa yang telah lama berdiam di Bukit Toto Ninu.
*Chellz Pahun


Tinggalkan Balasan