LABUAN BAJO – Tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi perkembangan Desa Wisata Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Desa yang dikenal dengan julukan “desa wisata seribu air terjun” ini mencatat total kunjungan sebanyak 14.977 wisatawan sepanjang tahun, menandai meningkatnya daya tarik Wae Lolos di mata wisatawan lokal hingga mancanegara.
Dikelilingi hutan lebat, perbukitan hijau, serta aliran air yang jernih, Wae Lolos menawarkan pengalaman wisata berbasis alam dan kehidupan desa yang autentik. Konsep wisata yang tenang, alami, dan dekat dengan masyarakat menjadi kekuatan utama yang terus menarik kunjungan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias, Robert Perkasa, menyebut capaian tersebut sebagai hasil dari kerja bersama masyarakat dalam menjaga alam dan mengelola wisata secara berkelanjutan.
“Kami tidak mengejar jumlah semata, tetapi bagaimana wisata di Wae Lolos tetap terjaga, alami, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Angka kunjungan ini adalah buah dari kepercayaan wisatawan terhadap desa kami,” ujar Robert.
Dari total kunjungan, 5.018 wisatawan lokal tercatat datang ke Wae Lolos. Mereka berasal dari desa sekitar dan wilayah Manggarai Raya. Kehadiran wisatawan lokal dinilai sangat penting dalam menjaga denyut wisata desa, terutama di luar musim liburan panjang.
Menurut Robert, wisatawan lokal memiliki kedekatan emosional dengan Wae Lolos.
“Bagi masyarakat sekitar, Wae Lolos bukan hanya tempat wisata, tetapi ruang untuk beristirahat dan menyatu kembali dengan alam. Ini yang membuat kunjungan lokal terus ada sepanjang tahun,” katanya.
Sepanjang 2025, 537 wisatawan domestik dari berbagai daerah di Indonesia memilih Wae Lolos sebagai tujuan perjalanan. Mereka umumnya mencari alternatif destinasi alam yang tidak ramai dan menawarkan pengalaman yang lebih personal.
Konsep wisata berbasis komunitas yang diterapkan di Wae Lolos menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat desa.
Jumlah kunjungan paling besar berasal dari wisatawan mancanegara, yang mencapai 9.422 orang. Mereka datang dari berbagai negara dan menjadikan Wae Lolos sebagai bagian dari perjalanan menjelajahi Flores.
Kehadiran wisatawan asing di jalur trekking, air terjun, hingga rumah-rumah warga kini menjadi pemandangan yang lumrah. Banyak dari mereka datang berdasarkan rekomendasi sesama pelancong dan cerita yang tersebar melalui media sosial.
“Promosi kami sebagian besar terjadi secara alami, dari cerita wisatawan ke wisatawan. Mereka datang karena pengalaman yang mereka dengar, bukan karena iklan besar,” ungkap Robert.
Peran Pokdarwis Jaga Keseimbangan Wisata
Pokdarwis Cunca Plias berperan sebagai garda terdepan dalam pengelolaan wisata Desa Wae Lolos. Mulai dari perawatan jalur trekking, pengaturan alur kunjungan, hingga pelibatan masyarakat dalam kegiatan wisata dilakukan secara bertahap dan berbasis komunitas.
Pendekatan ini membuat Wae Lolos tetap berkembang tanpa kehilangan identitas dan kelestarian alam.
“Wisata harus tumbuh bersama masyarakat. Kalau alam rusak dan masyarakat tidak terlibat, wisata itu tidak akan bertahan lama,” tegas Robert.
Capaian hampir 15 ribu kunjungan wisatawan sepanjang 2025 menjadi modal kuat bagi Desa Wisata Wae Lolos untuk melangkah ke masa depan. Tantangan ke depan bukan hanya soal peningkatan jumlah pengunjung, tetapi menjaga kualitas pengalaman, kelestarian lingkungan, dan peran aktif masyarakat desa.
Wae Lolos mungkin tidak menawarkan kemewahan. Namun, dalam kesederhanaannya, desa ini menghadirkan pengalaman perjalanan yang jujur, tenang, dan membekas sebuah daya tarik yang membuat banyak orang datang, dan ingin kembali.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan