PAGI HINGGA petang, langit di atas Kampung Langgo tak lagi segarang hari-hari sebelumnya. Setelah berhari-hari didera cuaca ekstrem yang mencekam, alam seolah sepakat untuk kembali bersahabat, menyisakan udara sejuk dan suasana yang tenang. Di tengah kedamaian itu, sebuah tradisi sakral bertajuk Ritual Adat Cunca Plias digelar, Kamis (15/1/2026).
Ritual yang menjadi urat nadi spiritualitas warga setempat ini terasa kian istimewa. Keheningan doa-doa adat tak hanya dihadiri masyarakat Kampung Langgo dan sekitarnya, tetapi juga disaksikan dengan penuh takzim oleh wisatawan asal Spanyol dan Prancis. Bagi para pelancong Eropa itu, momen ini bukan sekadar tontonan, melainkan jendela untuk memahami betapa eratnya relasi manusia, Sang Pencipta, dan alam semesta.
Jejak Langkah dari Rumah Adat ke Air Terjun

Prosesi dimulai dari jantung tradisi: Mbaru Gendang Kampung Langgo dan Compang Langgo. Di ruang sakral itu, para tetua adat bersama anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias merapalkan doa-doa pembuka dengan khidmat. Asap dupa membumbung perlahan, menyatu dengan napas hening yang mengikat hadirin dalam satu rasa.
Perjalanan spiritual kemudian berlanjut menuju sumber air minum warga—simbol kehidupan yang mesti dijaga kesuciannya. Dari sana, rombongan bergerak menuju puncak ritual di hadapan gemuruh Air Terjun Cunca Plias. Di bawah tirai air yang megah, doa-doa syukur dilarungkan, seolah menyerahkan harapan kepada alam yang memberi hidup.
Syukur dan Doa Keselamatan
Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menuturkan bahwa ritual ini memuat makna yang dalam. Selain sebagai ungkapan syukur atas pencapaian di tahun sebelumnya, prosesi ini menjadi “pagar gaib” bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos.
“Kami memohon kepada leluhur dan Sang Pencipta agar seluruh wisatawan yang datang dijauhkan dari mara bahaya. Harapan kami sederhana: setiap orang pulang dengan kenangan indah, tanpa kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan,” ujar Robert di sela-sela ritual.
Semangat Baru di Kantor Baru
Ritual adat kali ini juga menandai babak baru kemandirian desa. Bersamaan dengan prosesi sakral, kantor baru Pokdarwis mulai beroperasi sebagai Tourist Information Center (TIC). Fasilitas ini, dilengkapi sarana penunjang seperti toilet bersih—bantuan dari Bank Indonesia—diharapkan meningkatkan mutu layanan bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Cuaca yang mendadak bersahabat hari itu seolah menjadi restu alam bagi masyarakat Wae Lolos. Ketika sesajian persembahan, rapalan doa, dan suara air terjun menyatu, tumbuh keyakinan bahwa Cunca Plias akan dikenal bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena kehangatan doa dan keteguhan adatnya.
Bagi wisatawan Spanyol dan Prancis yang hadir, hari ini bukan sekadar perjalanan wisata. Ia menjelma ziarah budaya—sebuah kisah tentang harmoni manusia dan alam—yang kelak akan mereka ceritakan saat kembali ke negeri asal.**
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan