Oleh : Wicaksono (Ndoro Kangkung)

DI BALIK dinding batu kuno yang menjulang tinggi, di bawah fresko Michelangelo yang bercerita tentang penciptaan dan kiamat, sekelompok pria berbalut jubah merah tua berkumpul dalam keheningan yang penuh makna. Satu per satu, mereka memasuki Kapel Sistina, membawa serta doa, ketakutan, danโ€”tak dapat dihindariโ€”ambisi mereka.

Edward Berger merajut ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š menjadi kisah yang lebih dari sekadar pemilihan seorang Paus; ini adalah perang sunyi di antara para gembala yang ingin menjadi raja.

Berger, yang sebelumnya membawa kita ke parit penuh lumpur dan penderitaan dalam ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ž๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ ๐˜๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต, kini mengalihkan fokusnya ke ranah yang lebih tenang, namun sama-sama brutal: politik Vatikan. Dalam film ini, ruang-ruang sakral berubah menjadi arena pertempuran ideologi, di mana setiap bisikan dapat menjadi pedang dan setiap doa bisa menjadi ancaman terselubung.

Ralph Fiennes, dengan wajahnya yang membawa beban dunia, memerankan Kardinal Thomas Lawrence, seorang pria yang di tengah semua manuver politik ini, masih berpegang teguh pada sesuatu yang mirip dengan iman. Bukan iman dalam dogma atau kekuasaan, tetapi dalam kemungkinan bahwa kebenaran, betapapun rapuhnya, masih bisa menang.

“Marilah kita berharap Tuhan menganugerahi kita seorang paus yang meragukan, yang berdosa, dan memohon pengampunan,โ€ katanya dalam salah satu momen paling menggugah film ini.

Secara struktur, ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š mengambil pendekatan yang lebih mendekati permainan catur daripada thriller konspirasi. Ini bukan ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ด & ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด (2009), di mana rahasia dan pembunuhan berkejaran dalam tempo cepat di gang-gang Vatikan.

Sebaliknya, ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š adalah permainan politik yang halus, di mana setiap langkah memiliki konsekuensi yang dapat mengubah arah sejarah. Jika ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ด & ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด adalah pertarungan gladiator di Colosseum, ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š adalah duel antara dua grandmaster catur di ruang yang hanya diterangi lampu redup.

Yang membuat film ini begitu memikat adalah cara Berger menggunakan ruang dan atmosfer untuk membangun ketegangan. Kamera bergerak perlahan, hampir enggan, mengamati para kardinal yang duduk dalam diam, sementara pemikiran dan niat mereka berkecamuk seperti badai di dalam hati mereka. Tidak ada yang berbicara lebih dari yang diperlukan. Tidak ada yang menunjukkan lebih dari yang ingin mereka ungkapkan.

๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š bukan tanpa kekurangan. Beberapa penonton mungkin merasa film ini terlalu lamban, terlalu banyak bermain dalam ruang psikologis daripada memberi kejutan yang nyata. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya.

Dalam dunia di mana politik sering ditampilkan sebagai sesuatu yang penuh aksi dan ledakan, ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š mengingatkan kita bahwa kekuasaan sejati sering kali ditentukan dalam keheninganโ€”dalam tatapan yang tertahan, dalam suara yang gemetar, dalam doa yang mungkin lebih banyak ditujukan kepada diri sendiri daripada kepada Tuhan.

Salah satu momen paling tajam dalam film ini terjadi saat Kardinal Vincent Benรญtez, seorang tokoh yang muncul sebagai sosok misterius dalam konklaf, menyindir rekan-rekannya dengan tajam, โ€œKalian adalah orang-orang kecil yang mementingkan diri sendiri, menempatkan ambisi pribadi di atas gereja.โ€

Ini adalah titik balik, bukan hanya dalam narasi film, tetapi dalam bagaimana kita memahami dinamika kekuasaan dalam Vatikan itu sendiri.

Pada akhirnya, ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š bukanlah tentang siapa yang menjadi Paus, melainkan tentang bagaimana kekuasaan diuji, digugat, dan diperebutkan.

Dengan performa yang solid dari para aktornya, terutama Fiennes, serta arahan Berger yang penuh kontrol dan presisi, film ini menjadi pengalaman yang tidak hanya menarik, tetapi juga menggugah pikiran.

๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™˜๐™ก๐™–๐™ซ๐™š adalah drama yang membakar perlahan, seperti lilin di kapel yang berusia ratusan tahunโ€”nyalanya kecil, tetapi cukup terang untuk mengungkap kegelapan yang tersembunyi di balik tembok-tembok suci. **

 

Penulis adalah mantan Chief Editor Media Tempo