Bibit bakau di pesisir pantai Desa Nggolonio

NAGEKEO – Alih fungsi dan kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Nagekeo terus menjadi perhatian serius. Dalam kurun waktu 2018 hingga 2023, luas mangrove tercatat menyusut dari 976,7 hektare menjadi 831,6 hektare. Sekitar 173,4 hektare telah beralih fungsi menjadi tambak ikan, tambak garam, lahan pertanian, hingga permukiman.

Kondisi ini juga dirasakan langsung oleh warga Desa Nggolonio. Di wilayah tersebut, sekitar 23,26 hektare mangrove mengalami degradasi dan kini menjadi area prioritas untuk rehabilitasi.

Salah satu warga yang tergerak untuk bertindak adalah Stefanus Malung, aparat Desa Nggolonio yang menjabat sebagai Kepala Seksi Pemerintahan. Ia menilai, kerusakan mangrove tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat pesisir.

“Sekarang ikan semakin sulit didapat. Dulu tidak seperti ini. Mangrove ditebang untuk kayu dan juga karena aktivitas investor garam,” ujarnya.

Menurut Stefanus, mangrove memiliki peran penting sebagai habitat ikan dan pelindung alami pesisir. Jika kerusakan terus dibiarkan, bukan hanya hasil tangkapan nelayan yang menurun, tetapi juga tradisi lokal terancam punah.

“Budaya seperti rongga bisa hilang kalau mangrove juga hilang. Karena semua itu saling berkaitan dengan alam,” tambahnya.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Stefanus bersama warga membentuk Komunitas Peduli Mangrove yang berlokasi di sempadan pantai Robhokeka–Wae Acu. Komunitas ini mulai aktif sejak 17 Februari 2026, dengan fokus utama pada rehabilitasi dan pelestarian mangrove.

Saat ini, komunitas tersebut telah menyiapkan sekitar 4.000 anakan mangrove yang ditangkarkan secara mandiri dan siap untuk ditanam di kawasan pesisir yang rusak.

“Kami mulai dari yang kecil dulu. Bibit sudah siap tanam, tinggal bagaimana kita jaga bersama supaya bisa tumbuh,” jelas Stefanus.

Ia berharap upaya masyarakat ini mendapat dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak, mengingat kerusakan mangrove sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Menurutnya, penyelamatan mangrove bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut masa depan ekonomi dan identitas budaya masyarakat pesisir Nagekeo.

Dengan semangat gotong royong, warga Nggolonio kini berupaya membalik keadaan dari wilayah yang terdegradasi menjadi kawasan pesisir yang kembali hijau dan produktif.