BOGOR — Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, lahir pada 17 Mei 1962 di Ranggu, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak masa muda, ia sudah merasakan panggilan hidup religius yang kuat, menuntunnya menapaki jalan pelayanan Gereja Katolik dengan penuh ketekunan dan kesederhanaan.

Panggilan iman itu membawanya masuk ke Seminari Menengah St. Pius XII, Kisol, sebagai langkah awal untuk mendalami kehidupan rohani. Pada tahun 1982, ia resmi bergabung dengan Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Ordo Saudara Dina, dan setahun kemudian mengikrarkan kaul pertama pada 15 Juli 1983, menandai awal pengabdian hidupnya bagi Tuhan dan Gereja.

Dalam perjalanan formasi imamatnya, Paskalis menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1987) dan studi teologi di Sanata Dharma University, Yogyakarta. Pada 22 Januari 1989, ia mengucapkan kaul kekal sebagai anggota OFM, menegaskan komitmennya untuk hidup dalam pelayanan dan doa. Tidak lama kemudian, pada 2 Februari 1991, ia ditahbiskan sebagai imam di Paroki Santa Maria Ratu Para Malaikat, Cipanas, Jawa Barat, memulai pelayanan pastoral yang menjadi perwujudan nyata panggilan imamatnya.

Karier imamatnya berkembang seiring dengan panggilan untuk melayani umat dan membimbing sesama frater. Ia bertugas di Paroki Santa Maria, Keuskupan Jayapura, Papua, sebelum melanjutkan studi spiritualitas Fransiskan di Pontifical University Antonianum, Roma (1993–1996). Setelah kembali ke Indonesia, Paskalis membina generasi baru anggota OFM sebagai magister novis di Depok (1996–2001), sambil aktif melayani di Paroki Santo Herkulanus.

Dedikasinya yang teguh dalam panggilan iman semakin terlihat ketika ia dipilih sebagai Provinsial OFM Indonesia pada awal tahun 2000-an, sebuah posisi yang menuntut kepemimpinan dan pembinaan spiritual bagi seluruh anggota ordo di tanah air. Pada tahun 2009, pengabdiannya diakui secara internasional ketika ia diangkat menjadi Definitor General OFM untuk wilayah Asia dan Oseania, berkantor di Roma.

Puncak pelayanan Mgr. Paskalis terjadi ketika Paus Fransiskus menunjuknya sebagai Uskup Keuskupan Bogor pada 21 November 2013, dan ia menerima tahbisan episkopal pada 22 Februari 2014. Dengan moto uskup “Magnificat anima mea dominum”—“Jiwaku memuliakan Tuhan”—ia menegaskan komitmen hidupnya untuk memuliakan Tuhan melalui pelayanan pastoral dan kepemimpinan Gereja.

Selain tugas keuskupan, Mgr. Paskalis aktif dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan terpilih sebagai Sekretaris Jenderal KWI pada 7 November 2022. Meski kemudian Paus Fransiskus sempat mengangkatnya sebagai kardinal pada 6 Oktober 2024, Mgr. Paskalis memilih menolaknya sebagai wujud kerendahan hati dan ketekunan dalam panggilan iman, sebuah keputusan yang jarang terjadi.

Setelah puluhan tahun mengabdi bagi Gereja dan umat, Keuskupan Bogor menerima pengunduran dirinya pada 19 Januari 2026, menandai berakhirnya babak resmi pelayanannya sebagai Uskup Bogor.

Perjalanan panggilan imamat Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, dari seorang frater Fransiskan hingga pemimpin Gereja lokal dan tokoh nasional Katolik, merupakan kisah ketekunan, doa, dan pengabdian yang menginspirasi, menunjukkan bahwa setiap langkah dalam hidup religius adalah wujud nyata dari panggilan iman yang dijalani dengan kesetiaan dan rendah hati.

 

Editor : Chellz