BOGOR – Kelompok Solidaritas Umat menyurati Keuskupan Bogor untuk mendorong sikap yang adil, transparan, dan terbuka terkait pengunduran diri Paskalis Bruno Syukur, OFM, dari jabatan Uskup Bogor.
Surat tersebut disampaikan kepada Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, Christophorus Tri Harsono, pada Senin (9/3/2026).
Dalam surat itu, Solidaritas Umat menyampaikan keprihatinan atas situasi kehidupan menggereja di Keuskupan Bogor yang dinilai masih menyisakan berbagai pertanyaan di kalangan umat setelah pengunduran diri Mgr. Paskalis pada 19 Januari 2026.
Perwakilan Solidaritas Umat, Robertus Robet, mengatakan umat berharap pihak Keuskupan membuka ruang dialog serta mendengarkan berbagai aspirasi yang berkembang di tengah umat.
“Dengan iman yang teguh, kami berharap penyelenggaraan Ilahi yang berkarya melalui Administrator Apostolik Keuskupan Bogor dapat menuntun penyelesaian persoalan ini secara bijak, benar, dan adil,” ujar Robet dalam keterangan Solidaritas Umat, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, langkah dialog terbuka penting untuk menjaga kepercayaan umat terhadap para gembala Gereja sekaligus menghidupi semangat sinodalitas.
“Kami berharap agar para imam dan umat dapat berjalan bersama dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan menggereja,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat yang juga mewakili Solidaritas Umat, Yustinus Prastowo, menilai klarifikasi yang terbuka diperlukan agar berbagai spekulasi di tengah umat dapat dihindari.
“Gereja adalah komunitas iman yang dibangun di atas kepercayaan. Karena itu, setiap persoalan yang menyangkut kepemimpinan Gereja perlu ditangani secara transparan dan adil agar kepercayaan umat tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa langkah yang dilakukan Solidaritas Umat bukan untuk memperkeruh situasi, melainkan sebagai bentuk kepedulian umat agar persoalan tersebut dapat disikapi secara jernih dan bermartabat.
“Kami berharap Keuskupan berani membuka ruang dialog yang positif dan membangun bersama umat. Tujuan kami sederhana: menjaga persekutuan umat sekaligus memastikan setiap persoalan diselesaikan secara bijak, benar, dan adil,” kata Prastowo.
Ia juga menilai sikap diam berpotensi menimbulkan spekulasi di tengah umat.
“Keuskupan harus berhenti memilih sikap diam seolah membiarkan situasi saling curiga berkembang liar,” tambahnya.
Dalam surat tersebut, Solidaritas Umat juga menyampaikan sejumlah harapan kepada Administrator Apostolik Keuskupan Bogor, antara lain:
- Membuka diri untuk mendengarkan dan memahami keprihatinan umat terkait berbagai tuduhan terhadap Mgr. Paskalis serta meresponsnya secara terbuka dan jujur;
- Membangun kembali kepercayaan umat kepada para gembala Gereja dengan melibatkan umat non-tertahbis dalam semangat sinodalitas;
- Memastikan setiap pengambilan keputusan penting dilakukan secara akuntabel dan transparan, karena ketertutupan dinilai hanya akan menyuburkan rumor serta syak wasangka;
- Menyampaikan visi dan arah pastoral ke depan demi perbaikan kehidupan Gereja di Keuskupan Bogor.
Surat tersebut ditandatangani sekitar 50 umat Katolik dari berbagai paroki di Keuskupan Bogor. Beberapa di antaranya merupakan tokoh masyarakat seperti Tomi Aryanto, Alexander Philiph, Agustinus Bandur, Leonardus DaSilva, Gandung Suhardono, serta Laurentius Baskara yang dikenal sebagai aktivis Orang Muda Katolik.
Sejumlah tokoh perempuan juga turut menandatangani surat tersebut, antara lain Ermelina Singereta (lawyer dan aktivis HAM diaspora), Angela Clark Fidela, Erika Agatha, Angelika Widiastuti, Veronica Mahal, serta Yovita Masri.
Tokoh lain yang turut berpartisipasi antara lain Siprianus Edi Hardum, Frans Asisi Datang, Justinus Robby Sodo (Ketua Keluarga Manggarai Bogor), Isaac Frigy De Qurino (Ketua Presidium PMKRI Cabang Bogor), serta Andrew Leo Wijaya (Ketua Komisariat IPB University PMKRI Cabang Bogor).
Melalui surat tersebut, Solidaritas Umat berharap Christophorus Tri Harsono dapat meluangkan waktu untuk beraudiensi guna membahas langkah-langkah konkret dalam menindaklanjuti berbagai harapan umat.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan