Ende, NTT — Puluhan pelajar di Desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, nekat menyampaikan permohonan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta bantuan pembangunan jembatan penghubung di Kali Lowolaka, yang selama ini menjadi penghalang utama akses menuju sekolah saat musim hujan.
Permohonan tersebut disampaikan oleh sebelas pelajar perwakilan dari tingkat PAUD hingga SMP, Sabtu (24/1/2026) pagi. Dengan mengenakan seragam Pramuka, mereka berdiri di tengah aliran air sungai Kali Lowolaka, menyampaikan harapan agar pemerintah segera turun tangan.
“Bapak Presiden Prabowo, tolong bantu kami bangun jembatan. Kalau banjir kami tidak bisa ke sekolah,” pinta salah satu pelajar mewakili teman-temannya.
Sekolah Terancam Saat Musim Hujan
Setiap musim hujan, pelajar dari Kampung Nuandale dan Leleloo, Desa Fataatu Timur, harus menghadapi risiko besar demi tetap bisa mengikuti pelajaran. Tanpa jembatan, mereka terpaksa menunggu air surut atau mencari cara lain untuk menyeberangi sungai dengan penuh kehati-hatian.
Kondisi ini menjadi potret nyata keterbatasan infrastruktur pendidikan di wilayah pedesaan, di mana keselamatan anak-anak kerap dipertaruhkan demi menuntut ilmu.
Terpaksa Menyeberang Sungai Pakai Traktor
Saat debit air sungai meningkat, para pelajar terpaksa menumpang traktor pembajak sawah untuk menyeberangi Kali Lowolaka. Traktor tersebut digunakan secara bergantian karena tidak mampu mengangkut seluruh siswa sekaligus.
Para siswi biasanya duduk di bagian dalam traktor yang lebih aman, sementara sebagian siswa lain terpaksa bergelantungan di bagian luar, dalam kondisi yang sangat berisiko.
Namun dalam empat hari terakhir, derasnya arus sungai membuat traktor pun tidak dapat digunakan, sehingga banyak siswa terpaksa tidak bersekolah.
Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, mengatakan bahwa kondisi ini sudah lama terjadi dan sangat menghambat pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.
“Kalau air besar, biasanya mereka pakai traktor. Tapi sekarang sudah empat hari traktor tidak bisa digunakan karena air masih tinggi dan deras,” ujarnya.
Ratusan Siswa Terdampak
Kondisi sulit ini dialami oleh para siswa dari SMPN Detunggali, SDI Niosanggo, serta PAUD Detunggali Aji, yang setiap hari harus melintasi Kali Lowolaka untuk bisa mengakses pendidikan.
Meski menghadapi tantangan berat, semangat belajar anak-anak di Fataatu Timur tetap tinggi. Mereka berharap pemerintah segera memberikan solusi nyata agar akses menuju sekolah menjadi lebih aman dan layak.
Harapan untuk Pemerintah
Warga berharap pembangunan jembatan di Kali Lowolaka segera direalisasikan, mengingat persoalan ini telah berlangsung bertahun-tahun dan terus mengancam keselamatan serta masa depan generasi muda di wilayah tersebut.
Kisah para pelajar di Ende ini menjadi pengingat kuat tentang ketimpangan akses pendidikan di Indonesia Timur, sekaligus seruan agar negara hadir memastikan setiap anak bisa bersekolah tanpa mempertaruhkan nyawa.


Tinggalkan Balasan