LABUAN BAJO— Menjelang sore, sebuah panggilan darurat diterima Padar Heritage Conservation (PHC). Dari Pulau Komodo, tenaga kesehatan Puskesmas Komodo melaporkan seorang ibu hamil membutuhkan rujukan segera ke rumah sakit di Labuan Bajo.

Pasien bernama Dian Lestari didiagnosis sebagai primigravida dengan kala II persalinan memanjang. Berdasarkan keterangan dr. Andreas, pasien telah mengalami pembukaan lengkap sejak pukul 11.30 WITA. Namun hingga beberapa jam kemudian, proses persalinan belum berlangsung karena pasien mengalami kesulitan mengejan. Kepala janin juga telah berada di rongga panggul sehingga diperlukan penanganan lanjutan di rumah sakit.

“Pasien sudah mengalami pembukaan lengkap sejak pukul 11.30 WITA, namun hingga saat ini bayi belum dapat dilahirkan karena ibu mengalami kesulitan mengejan. Kepala janin juga sudah berada di panggul sehingga kondisi ini berisiko apabila penanganan lanjutan tidak segera dilakukan,” ujar dr. Andreas.

Laporan tersebut diterima Humas PHC, Yoanna Daely, pada pukul 15.08 WITA. Setelah informasi diverifikasi, tim PHC mengaktifkan prosedur evakuasi darurat dan menyiapkan personel, peralatan, serta armada.

Pada pukul 16.20 WITA, speedboat Seariders bertolak dari Pos Padar Utara menuju Pulau Komodo. Setelah pasien dijemput, perjalanan dilanjutkan menuju Labuan Bajo pada pukul 16.50 WITA.

Sekitar satu jam kemudian, tepat pukul 17.59 WITA, kapal sandar di pelabuhan Labuan Bajo. Dari dermaga, pasien langsung dipindahkan ke ambulans untuk dibawa ke RSUD Komodo guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Menurut Yoanna Daely, setiap laporan darurat ditindaklanjuti melalui prosedur yang mencakup koordinasi dengan tenaga kesehatan, kesiapan personel, pemeriksaan armada, dan perlengkapan evakuasi sebelum keberangkatan.

“Begitu menerima laporan dari tenaga kesehatan, tim kami langsung melakukan persiapan secara menyeluruh sebelum armada diberangkatkan. Dalam setiap misi evakuasi, kecepatan memang penting, tetapi kesiapan armada, peralatan, dan personel menjadi bagian dari proses agar evakuasi dapat berlangsung dengan aman,” katanya.

Proses evakuasi tersebut melibatkan dukungan berbagai pihak, di antaranya KSOP Kelas III Labuan Bajo, Polres Manggarai Barat, tenaga kesehatan Puskesmas Komodo, dan tim medis RSUD Komodo.

Pulau-pulau berpenghuni di kawasan Taman Nasional Komodo memiliki akses pelayanan kesehatan yang bergantung pada transportasi laut ketika pasien memerlukan rujukan ke rumah sakit di Labuan Bajo. Dalam kondisi darurat, koordinasi antara tenaga kesehatan, penyedia transportasi, aparat, dan rumah sakit menjadi bagian dari proses penanganan hingga pasien tiba di fasilitas kesehatan rujukan.