LABUAN BAJO – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mulai menggeser arah pembangunan pariwisata dari yang selama ini bertumpu pada Taman Nasional Komodo menuju pengembangan ekowisata yang lebih berkelanjutan. Diversifikasi destinasi dinilai menjadi langkah penting agar Labuan Bajo tetap menjadi tujuan wisata kelas dunia tanpa meningkatkan tekanan terhadap kawasan konservasi.
Arah baru tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus S. Sodo, saat membuka Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan: Best Practice dan Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Ekowisata di Kabupaten Manggarai Barat di Crowne Plaza Hotel, Labuan Bajo, Kamis (16/7/2026).
Menurut Fransiskus, keberhasilan Labuan Bajo tidak lagi dapat diukur hanya dari meningkatnya jumlah wisatawan. Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan pariwisata tetap menjaga kelestarian lingkungan, budaya lokal, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
“Pertumbuhan yang pesat adalah berkah. Namun tanpa pengendalian yang presisi, pertumbuhan itu dapat berubah menjadi beban yang menggerogoti ekosistem alam dan kultur sosial kita. Karena itu, pertumbuhan harus diarahkan menuju keberlanjutan dan kesejahteraan yang inklusif,” ujarnya.
Ia menilai pola kunjungan wisata yang selama ini terlalu berpusat di Taman Nasional Komodo perlu diubah. Ketergantungan terhadap satu destinasi bukan hanya meningkatkan tekanan terhadap kawasan konservasi, tetapi juga membuat manfaat ekonomi pariwisata belum tersebar secara optimal ke wilayah daratan.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong pengembangan destinasi-destinasi alternatif di luar Taman Nasional Komodo. Kawasan seperti Gua Rangko, Pulau Seraya, dan sejumlah objek wisata di daratan diproyeksikan menjadi bagian dari strategi dekonsentrasi wisata agar wisatawan tinggal lebih lama dan berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Fransiskus mengatakan perubahan tersebut bukan sekadar memindahkan arus kunjungan wisatawan, melainkan membangun pengalaman wisata yang lebih utuh. Wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk melihat komodo, tetapi juga menikmati bentang alam, budaya, kuliner, dan produk UMKM yang menjadi kekuatan Manggarai Barat.
Untuk mendukung arah baru tersebut, pemerintah memperkuat tata kelola melalui pembentukan Satgas Wisata Bahari yang bertugas mengoordinasikan pengawasan aktivitas wisata di kawasan perairan. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan keselamatan wisatawan, memperkuat kepatuhan pelaku usaha, serta memastikan aktivitas wisata berjalan sesuai ketentuan.
Di sisi lain, transformasi digital juga terus dipercepat melalui pengembangan aplikasi Gendang Labuan. Platform ini akan mengintegrasikan layanan informasi destinasi, reservasi perjalanan, hingga pembayaran non-tunai dalam satu sistem.
Melalui aplikasi tersebut, pemerintah dapat memantau perjalanan wisata secara real time, memastikan reservasi dilakukan melalui agen perjalanan resmi, serta mengawasi keterlibatan pemandu wisata yang memiliki kompetensi sesuai standar. Sistem itu juga diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pariwisata.
Fransiskus mengakui transformasi menuju ekowisata berkelanjutan masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kebutuhan pembiayaan, hingga sinkronisasi regulasi antarinstansi. Untuk itu, pemerintah daerah terus membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat, dunia usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan masyarakat guna memperkuat tata kelola serta mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung.
Ia berharap Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi pijakan bersama dalam membangun Labuan Bajo sebagai destinasi yang tidak hanya mendunia karena komodo, tetapi juga karena keberhasilannya menjaga keseimbangan antara konservasi, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.**
Chellz


Tinggalkan Balasan