RUTENG – Dinamika pemilihan Ketua Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dalam Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghangat setelah Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena secara terbuka menyebut adanya dukungan sejumlah tokoh alumni kepada salah satu kandidat Ketua PP PMKRI.
Pernyataan tersebut disampaikan Melki dalam pertemuan alumni PMKRI yang diinisiasi Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI NTT di Aula Karya Murni, Ruteng, Senin (20/7/2026) malam, di sela pelaksanaan Kongres dan MPA PMKRI.
Dalam forum itu, Melki yang juga mantan Sekretaris Jenderal PP PMKRI mengatakan, “Mereka bertiga, Angelo, Juventus, dan Gusma menghendaki Delfis, anak Ambon itu, terpilih sebagai Ketua PP kali ini.”
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian peserta kongres karena nama yang disebut bukan hanya tokoh alumni, tetapi juga figur yang saat ini memiliki jabatan publik.
Nama yang disebut Melki ialah anggota DPD RI Angelo Wake Kako, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, dan Stefanus Asat Gusma yang kini menjabat Ketua Umum Pemuda Katolik sekaligus Komisaris PT PLN Indonesia Power Renewables (IPREN).
Sosok yang disebut mendapat dukungan adalah Christian Delvis Rettob, kader PMKRI asal Cabang Ambon. Delvis pernah menjabat Sekretaris Jenderal PP PMKRI dan sebelumnya maju sebagai calon Ketua Presidium PP PMKRI pada Kongres dan MPA di Merauke. Pada Kongres di Ruteng, Delvis kembali mencalonkan diri sebagai Ketua PP PMKRI.
Pernyataan Gubernur NTT tersebut memicu perbincangan di kalangan kader mengenai pentingnya menjaga independensi organisasi mahasiswa dari pengaruh politik maupun kepentingan di luar forum kongres.
Presidium Gerakan Kemasyarakatan (GERMAS) PMKRI Cabang Labuan Bajo, Nicolas, mengatakan PMKRI harus tetap berdiri sebagai organisasi kader yang independen dan tidak kehilangan tradisi kritisnya terhadap penyelenggaraan negara.
Menurut Nicolas, dukungan terbuka dari tokoh-tokoh yang memiliki posisi politik maupun jabatan publik berpotensi menimbulkan persepsi adanya keberpihakan dalam proses kontestasi internal PMKRI. Karena itu, ia mengingatkan agar proses pemilihan Ketua PP PMKRI sepenuhnya diserahkan kepada peserta kongres sesuai mekanisme organisasi.
“PMKRI lahir sebagai organisasi kader yang memiliki tradisi intelektual dan sikap kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah. Independensi organisasi harus dijaga agar daya kritis itu tidak tergerus oleh kepentingan politik mana pun,” kata Nicolas.
Ia menambahkan, organisasi mahasiswa saat ini memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral yang mengawal jalannya demokrasi dan mengkritisi setiap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Karena itu, menurutnya, kader PMKRI harus memastikan regenerasi kepemimpinan berlangsung secara bebas, demokratis, dan mandiri.
Nicolas juga mengimbau para elite politik, pejabat publik, maupun alumni untuk menghormati kedaulatan forum Kongres dan MPA PMKRI serta tidak melakukan tindakan yang dapat ditafsirkan sebagai upaya memengaruhi pilihan peserta.
“Pemimpin PP PMKRI harus lahir dari kehendak kader melalui mekanisme organisasi, bukan karena persepsi adanya dukungan dari kekuatan politik di luar forum kongres. PMKRI harus tetap menjadi kekuatan moral yang bebas, independen, dan berani menyuarakan kepentingan rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Stefanus Asat Gusma masih memilih bungkam setelah upaya konfirmasi atas pernyataan Gubernur NTT yang menyebut namanya sebagai salah satu tokoh yang menghendaki Delvis terpilih.**
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan