RUTENG – Sejumlah poster digital berisi dugaan praktik politik uang dalam kontestasi Musyawarah Permusyawaratan Anggota (MPA) XXIII PMKRI di Ruteng, Kabupaten Manggarai, viral di berbagai grup WhatsApp dan media sosial sejak Senin (27/7). Poster-poster tersebut memicu perbincangan luas di kalangan kader PMKRI karena memuat tuduhan serius terkait upaya memengaruhi hasil pemilihan Ketua Pengurus Pusat (PP) PMKRI.

Dalam poster yang beredar, ditampilkan foto calon Ketua PP PMKRI Delvis A.D. Rettob bersama Stefanus Gusma dan Beny Papa. Poster itu memuat narasi seperti “Ruteng Bukan Pasar! Jangan Jual Suara Demi Kuasa!” serta tuduhan bahwa sejumlah pihak membawa uang untuk memenangkan Delvis A.D. Rettob.

Poster lain bahkan menyebut adanya fasilitas berupa villa mewah, uang saku, dan tiket pulang-pergi bagi cabang yang memberikan dukungan.

Nama Stefanus Gusma bukan kali pertama menjadi sorotan dalam dinamika Kongres dan MPA PMKRI di Ruteng. Sebelumnya, ia juga disebut dalam berbagai pemberitaan dan perbincangan kader terkait dugaan adanya “cawe-cawe” atau keterlibatan sejumlah tokoh di luar struktur organisasi dalam kontestasi pemilihan Ketua PP PMKRI.

Pada pertemuan alumni di Ruteng, Melkiades Laka Lena menyebut nama Gusma, Juventus (Bupati Sikka) dan Angelo Wake Kako (Anggota DPD RI) menghendaki Delvis terpilih jadi Ketua PP. PMKRI.

Namun demikian, dugaan keterlibatan tersebut belum pernah dibuktikan melalui mekanisme organisasi maupun proses hukum. Hingga kini juga belum ada pernyataan resmi dari Stefanus Gusma yang menanggapi tudingan tersebut.

Munculnya poster-poster yang kini viral semakin memperpanjang polemik di arena MPA PMKRI. Poster itu secara langsung mencantumkan nama Stefanus Gusma, Beny Papa, dan Delvis A.D. Rettob disertai narasi dugaan politik uang dan pemberian fasilitas kepada peserta MPA.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui siapa pihak yang membuat maupun pertama kali menyebarkan poster tersebut. Keaslian dan kebenaran seluruh informasi yang termuat di dalamnya juga belum dapat diverifikasi secara independen.

Sementara itu, Delvis A.D. Rettob, Stefanus Gusma, dan Beny Papa belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi terkait isi poster yang beredar. Panitia MPA PMKRI maupun Presidium Pengurus Pusat PMKRI juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai isu yang berkembang di media sosial tersebut.

Viralnya poster tersebut memunculkan beragam respons dari kader PMKRI. Sebagian menilai informasi itu perlu ditindaklanjuti melalui mekanisme organisasi apabila didukung bukti yang memadai.

Di tengah dinamika tersebut, sejumlah kader berharap proses pemilihan Ketua PP PMKRI tetap berlangsung secara demokratis, transparan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi Pro Ecclesia et Patria, serta setiap dugaan pelanggaran diselesaikan melalui mekanisme organisasi dan berdasarkan bukti, bukan semata-mata melalui narasi yang beredar di ruang digital.**