RUTENG – Empat orang dengan disabilitas psikososial (ODDP) di Desa Pong Murung dan Benteng Kuwu menerima dukungan startup kit dari Program Bersahaja (Bersama untuk Flores yang Sehat Jiwa), pada Rabu, 12/11/2025.

Bantuan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan berbasis komunitas yang tidak hanya menekankan aspek klinis, tetapi juga mengembalikan fungsi sosial penerima manfaat di tengah masyarakat.

‎Penyerahan dilakukan langsung oleh Yayasan Ayo Indonesia sebagai tim program Bersahaja dengan melibatkan keluarga dan aparat desa setempat. Setiap ODDP menerima dukungan sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, seperti ternak babi, ternak kambing, dan kit pertanian sederhana.

‎“Program ini bertujuan untuk mengurangi stigma bahwa ODDP hanya sebatas pasien. Mereka juga bisa berkarya, mandiri, dan berkontribusi bagi keluarga serta lingkungan,” kata Miseldis Halmida, fasilitator program Bersahaja Yayasan Ayo Indonesia.

‎Di Desa Pong Murung, keluarga penerima manfaat menyatakan bantuan tersebut memberi harapan baru.

‎”Selama ini saya bingung. Kalau terus mendampingi di rumah, siapa yang cari nafkah untuk keluarga? Tapi kalau mencari nafkah, saya takut meninggalkan dia sendirian,” ujar Teresia, pendamping salah satu ODDP di desa tersebut.

‎Selama ini, ODDP di desa tersebut lebih banyak bergantung pada keluarga. Dengan adanya startup kit, mereka berkesempatan mengembangkan keterampilan dan meningkatkan kemandirian.

‎Sementara itu, di Desa Benteng Kuwu, suasana penyerahan disaksikan oleh Kepala Desa dan masyarakat sekitar. Beberapa warga mengaku mulai memahami bahwa pemulihan ODDP tidak berhenti pada pemberian obat, tetapi juga perlu ruang partisipasi di masyarakat.

‎“Kalau mereka diberi ruang, ternyata bisa produktif juga. Itu yang sering tidak kita sadari,” kata Kepala Desa Benteng Kuwu.

‎Menurut data Program Bersahaja, inisiatif distribusi startup kit merupakan bagian dari strategi pemulihan berbasis komunitas yang telah dijalankan sejak tahun 2024. Hingga saat ini, 84 ODDP dan keluarga di wilayah Manggarai telah didampingi melalui kegiatan kelompok swadaya, edukasi keluarga, dan dukungan psikososial bersama para kader keswa.

‎Selain itu, program ini menargetkan 50 ODDP untuk menerima dukungan usaha produktif sebagai bentuk terapi okupasi. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pemulihan jiwa yang menempatkan pasien bukan hanya sebagai penerima layanan medis, tetapi juga subjek aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

‎“Bantuan ini memang kecil, tapi punya makna besar. Ia menegaskan bahwa pemulihan kesehatan jiwa bukan hanya urusan medis, melainkan juga soal martabat manusia,” ujar Jerry Santoso, koordinator Bersahaja Ayo Indonesia.**

Editor : Rafael