HUJAN DERAS yang turun di penghujung Desember lalu tak hanya membasahi perbukitan Kuwus Barat, tetapi juga mengguncang hidup Donatus Danal. Pria berusia 61 tahun itu hanya bisa terdiam ketika sebuah batu besar meluncur dari lereng dan menghantam rumah semi permanennya di Desa Compang Kules. Dinding jebol, ruang keluarga porak-poranda, dan rasa aman runtuh seketika.
Di tengah puing dan sisa ketakutan, harapan justru datang dari arah yang tak terduga. Bukan dari kontraktor atau lembaga bantuan besar, melainkan dari puluhan anggota Polsek Kuwus yang datang dengan seragam cokelat, membawa sekop, semen, dan papan kayu.
Mereka tidak datang untuk mengusut perkara pidana. Tidak ada garis polisi, tidak ada olah TKP. Yang terdengar justru bunyi adukan semen, ketukan palu, dan canda ringan di sela kerja. Polisi-polisi itu menjelma tukang bangunan, bergotong royong memperbaiki rumah yang rusak diterjang batu.
Dipimpin langsung Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar, aksi ini menjadi bagian dari program Bakti Bhayangkara, sebuah wujud empati Polri terhadap masyarakat di wilayahnya. Informasi mengenai kondisi rumah Donatus diterima dari Bhabinkamtibmas setempat, dan tanpa menunggu lama, bantuan pun digerakkan.
“Begitu kami mendapat laporan, kami tahu ini tidak bisa ditunda. Rumah ini harus segera diperbaiki agar bisa kembali ditempati dengan aman,” ujar IPTU Arsilinus, Selasa siang.
Perbaikan dilakukan secara sederhana namun penuh kesungguhan. Dinding setengah bata dan papan kayu yang jebol disusun kembali. Bata ringan diplester rapi, papan kayu diperkuat, dan cat kuning cerah menjadi sentuhan akhir yang mengubah wajah rumah Donatus. Selama dua hari, rumah itu perlahan bangkit dari luka.

Bantuan material berasal dari zakat profesi anggota Polsek Kuwus, uluran tangan dermawan lokal, serta dukungan pemerintah desa dan warga sekitar. Semua bekerja tanpa sekat, menyatu dalam semangat gotong royong yang kian jarang terlihat.
Bagi Donatus, pemandangan itu sulit dilupakan. Matanya berkaca-kaca saat melihat polisi dan warga mengecat dinding rumahnya.
“Saya tidak pernah menyangka polisi mau mengotori tangan mereka untuk memperbaiki rumah saya. Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan ini,” ucapnya lirih, dengan suara bergetar.
Tak hanya memperbaiki rumah, Polsek Kuwus juga menyerahkan bantuan sembako untuk menopang kebutuhan harian keluarga Donatus selama masa pemulihan. Bagi IPTU Arsilinus, tugas polisi memang tak berhenti pada patroli dan penegakan hukum.
“Keamanan itu juga soal rasa tenang di rumah sendiri, terutama saat bencana datang,” katanya.
Apresiasi pun datang dari Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang. Ia menyebut aksi tersebut sebagai simbol nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat.
“Ini bukan sekadar tentang semen dan papan kayu. Ini tentang meruntuhkan jarak antara polisi dan rakyat. Polisi harus hadir dengan hati,” ujarnya.
Di Compang Kules, sebuah rumah sederhana kini berdiri lebih kokoh. Di balik dinding yang baru diplester itu, tersimpan kisah tentang empati, keringat, dan tangan-tangan berseragam yang memilih membantu, bukan sekadar berjaga. Sebuah pengingat bahwa di saat musibah datang, kemanusiaan bisa hadir dari mana saja, bahkan dari mereka yang biasa kita temui di jalan dengan peluit dan lencana.(*)


Tinggalkan Balasan