Ketika “Galilea” Tak Lagi Sekadar Iman, Tapi Juga Hutan, Laut, dan Masa Depan

Oleh : Chellz Pahun

DI TENGAH geliat pariwisata yang kian masif dan janji-janji pertumbuhan ekonomi, sebuah suara lirih namun tegas datang dari mimbar Gereja. Dalam Surat Gembala Prapaskah/Paskah 2026, Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Prof. Maksimus Regus tidak hanya berbicara tentang kebangkitan Kristus, tetapi juga tentang sesuatu yang lebih membumi: krisis relasi manusia dengan alam.

Mengangkat tema “Kristus yang Bangkit Mendahului Kita ke Galilea: Bangkit, Berjalan Bersama, dan Bersaksi (Mat. 28:7)”, sang uskup mengajak umat membaca ulang makna “Galilea”. Bukan sekadar tempat geografis dalam Kitab Suci, tetapi ruang hidup konkret termasuk lanskap ekologis Labuan Bajo yang kini berada di persimpangan antara eksploitasi dan keberlanjutan.

Galilea yang Terancam

Dalam refleksinya, “Galilea ekologis” menjadi salah satu titik paling tajam. Di wilayah yang kini mendunia berkat Taman Nasional Komodo, keindahan alam bukan lagi sekadar anugerah, tetapi juga komoditas.

Ironinya, ketika wisatawan berdatangan untuk menikmati laut biru dan savana eksotis, tekanan terhadap ekosistem justru semakin nyata. Pembangunan infrastruktur, lonjakan kunjungan, hingga praktik pariwisata yang tidak terkendali mulai menyisakan jejak: degradasi lingkungan, krisis air, dan marginalisasi masyarakat lokal.

Surat gembala ini seakan menjadi kritik halus namun mendalam terhadap arah pembangunan tersebut. “Pariwisata boleh berkembang, tetapi ciptaan tidak boleh rusak,” tulis uskup Max, sebuah kalimat sederhana yang memuat teguran moral bagi semua pihak.

Gereja dan Sikap Profetik

Dalam konteks ini, Gereja tidak memilih diam. Menggemakan semangat ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus, surat ini menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Lebih jauh, Gereja bahkan memberi legitimasi moral kepada gerakan kritis: aktivis lingkungan, LSM, hingga media yang selama ini bersuara lantang terhadap potensi salah arah pembangunan pariwisata di Labuan Bajo.

Ini bukan sekadar dukungan simbolik, melainkan pengakuan bahwa kritik adalah bagian dari iman yang hidup. Sebuah posisi yang jarang diambil secara eksplisit di tengah euforia investasi dan pertumbuhan destinasi super prioritas.

Dari Iman ke Tindakan

Namun, Surat Gembala ini tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan arah: kebangkitan yang konkret.

“Galilea” dijabarkan dalam lima ruang kehidupan—pribadi, keluarga, Gereja, masyarakat, dan ekologi. Semua saling terkait. Krisis lingkungan, dalam perspektif ini, bukan sekadar masalah teknis, tetapi krisis spiritual dan relasional.

Ketika manusia gagal merawat alam, sesungguhnya ia juga gagal menjaga relasinya dengan Sang Pencipta.

Di sinilah Paskah menemukan relevansi sosialnya. Kebangkitan bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan untuk memperbaiki cara hidup—termasuk cara memperlakukan bumi.

Labuan Bajo di Titik Balik

Labuan Bajo hari ini berdiri di titik krusial. Ia bisa menjadi model pariwisata berkelanjutan yang menghormati alam dan budaya lokal. Namun, ia juga bisa tergelincir menjadi contoh klasik eksploitasi destinasi—indah di permukaan, rapuh di dalam.

Surat Gembala ini hadir seperti kompas moral di tengah tarik-menarik kepentingan itu.

Dengan bahasa iman, Gereja menyampaikan pesan yang sejatinya sangat rasional: tanpa ekologi yang sehat, tidak ada pariwisata yang bertahan. Tanpa keadilan sosial, tidak ada pembangunan yang bermakna.

Kebangkitan yang Mendesak

Paskah 2026 di Labuan Bajo, dengan demikian, bukan hanya tentang Alleluia di altar-altar Gereja. Ia adalah panggilan mendesak untuk “bangkit” dari cara pandang lama—yang melihat alam sebagai objek, bukan subjek kehidupan.

Di tengah riuhnya investasi dan pembangunan, suara Gereja mengingatkan: kehidupan lebih berharga daripada keuntungan sesaat.

Dan mungkin, seperti pesan Injil itu sendiri, Galilea yang sejati bukanlah tempat yang jauh. Ia ada di sini—di hutan yang mulai gundul, di laut yang kian ramai, di tanah yang perlahan berubah.

Pertanyaannya: apakah manusia bersedia kembali ke sana, dan benar-benar melihat?