Oleh : Chellz Pahun
REPUBLIK Demokratik (RD) Kongo kembali mengingatkan dunia bahwa sepak bola bukan hanya milik negara kaya, bukan pula hak istimewa negara yang hidup damai. Di tengah konflik bersenjata yang belum berakhir, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan, mereka mampu tampil di Piala Dunia 2026, lolos dari fase grup, bahkan memaksa Inggris bekerja keras sebelum menyerah 1-2 di babak 32 besar.
Sementara itu, Indonesia kembali menjadi penonton. Mimpi tampil di putaran final Piala Dunia masih terus diucapkan dari generasi ke generasi, tetapi belum pernah benar-benar menjadi kenyataan.
Perbandingan ini memang tidak sepenuhnya setara. Kondisi sosial, sejarah, dan budaya sepak bola kedua negara berbeda. Namun, kisah RD Kongo tetap menyisakan pertanyaan penting: mengapa negara yang hidup dalam keterbatasan mampu mencapai panggung dunia, sedangkan Indonesia yang memiliki sumber daya lebih besar masih tertahan dan hanya bisa terus bermimpi?
Ironinya begitu jelas.
RD Kongo masih dibayangi konflik berkepanjangan. Banyak wilayahnya belum benar-benar aman. Bahkan, negara itu belum memiliki stadion modern yang memenuhi standar internasional untuk menggelar pertandingan besar secara konsisten. Dalam beberapa kesempatan, mereka harus memainkan laga kandang di luar negeri karena keterbatasan fasilitas.
Indonesia justru berada di posisi sebaliknya.
Pemerintah telah menggelontorkan anggaran besar untuk membangun dan merenovasi stadion. Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta International Stadium, Gelora Bung Tomo, Gelora Bandung Lautan Api, Si Jalak Harupat, Manahan Solo, Gelora Sriwijaya Jakabaring, hingga berbagai stadion baru di banyak daerah menjadi bukti keseriusan pembangunan infrastruktur sepak bola.
Namun, stadion megah tidak otomatis menghasilkan tim nasional yang mampu bersaing di Piala Dunia.
Sepak bola tidak dimenangkan oleh beton, baja, lampu stadion, atau kursi tribun. Sepak bola dimenangkan oleh sistem.
RD Kongo memahami itu. Mereka terus menghasilkan pemain yang berkembang di akademi dan klub-klub Eropa. Ketika kembali membela negaranya, mereka datang dengan pengalaman, mental juara, disiplin, dan kualitas yang telah ditempa di level tertinggi.
Indonesia memang mulai berkembang. Prestasi kelompok umur meningkat, program naturalisasi menambah kualitas skuad, dan dukungan masyarakat tidak pernah surut. Semua itu merupakan kemajuan yang layak diapresiasi.
Namun, pekerjaan rumah masih sangat besar.
Pembinaan usia dini belum merata. Kompetisi kelompok umur belum berjalan konsisten di semua daerah. Klub masih lebih sering mengejar hasil jangka pendek daripada membangun pemain muda. Regenerasi pelatih membutuhkan perhatian lebih besar.
Di sisi lain, arah pembangunan sepak bola nasional kerap berubah mengikuti pergantian kepemimpinan sehingga program jangka panjang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Padahal, negara-negara yang kini menjadi langganan Piala Dunia membangun fondasi mereka selama puluhan tahun, bukan dalam hitungan musim.
Yang perlu dipelajari dari RD Kongo bukanlah konflik yang mereka alami, melainkan keteguhan mereka menjaga sepak bola tetap hidup di tengah berbagai keterbatasan. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak menghalangi lahirnya pemain berkualitas jika pembinaan berjalan dan talenta diberi kesempatan berkembang.
Indonesia memiliki semua modal untuk melangkah lebih jauh: jumlah penduduk yang besar, kecintaan luar biasa terhadap sepak bola, stadion modern, dukungan pemerintah, sponsor, kompetisi yang semakin baik, hingga potensi pemain yang melimpah.
Karena itu, alasan untuk terus gagal semakin sedikit.
Sudah saatnya sepak bola Indonesia berhenti puas dengan kemenangan-kemenangan sesaat, euforia media sosial, atau keberhasilan menjadi tuan rumah turnamen. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah mampu bersaing secara konsisten di level Asia dan akhirnya menembus putaran final Piala Dunia.P
RD Kongo telah membuktikan bahwa negara yang penuh luka masih mampu membuat sejarah.
Indonesia tidak kekurangan stadion. Tidak kekurangan suporter. Tidak kekurangan talenta.
Yang masih dibutuhkan adalah konsistensi membangun sistem, keberanian menjalankan pembinaan jangka panjang, dan kesabaran untuk tidak tergoda mencari jalan pintas setiap kali hasil tidak sesuai harapan.
Jika negara yang dihantam konflik bisa bersinar di Piala Dunia, maka Indonesia seharusnya tidak lagi sekadar bermimpi.
Sudah saatnya mimpi itu diwujudkan menjadi kenyataan.**


Tinggalkan Balasan