JAKARTA — Dugaan permainan dalam Forum MPA XXXIII PMKRI di Ruteng terus bergulir. Satu per satu kejanggalan yang muncul selama proses pemilihan mulai dibongkar.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah dugaan “kode suara” yang disebut beredar melalui sejumlah grup WhatsApp menjelang pemilihan Ketua Presidium.

Kode-kode seperti “Gass”, “Menang”, “Gasspool”, “Joss”, “Mania”, “Jaya”, “Terbaik”, hingga “The Best” disebut digunakan untuk menandai pilihan sejumlah cabang terhadap kandidat tertentu.

Dugaan tersebut terungkap setelah anggota, sekretaris ad hoc, dan Steering Committee Kongres–MPA melakukan penelusuran terhadap sejumlah kejanggalan selama forum berlangsung.

Jika benar digunakan untuk memastikan pilihan masing-masing cabang, praktik tersebut memunculkan pertanyaan serius: bagaimana mungkin suara disebut rahasia jika pilihan delegasi dapat ditandai melalui kode tertentu?

Kode “Gasspool” hingga “The Best”

Salah satu pesan yang disebut beredar menjelang pemilihan putaran pertama mengarahkan sejumlah cabang di Sumatera untuk memilih Christian A.D. Rettob, dengan kode berbeda untuk setiap cabang.

Pesan tersebut mencantumkan:

  • Medan: Christian A.D. Rettob — “Gass”
  • Nias: Christian A.D. Rettob — “Menang”
  • Karo: Christian A.D. Rettob — “Gasspool”
  • Sibolga: Christian A.D. Rettob — “Joss”
  • Pekanbaru: Christian A.D. Rettob — “Mania”
  • Padang: Christian A.D. Rettob — “Jaya”
  • Palembang: Christian A.D. Rettob — “Terbaik”
  • Pangkalpinang: Christian A.D. Rettob — “The Best”
  • Bengkulu: Christian A.D. Rettob — “Sah”
  • Jambi: Christian A.D. Rettob — “Pertama”
  • Lampung: kode tidak tercantum.

Ketua Steering Committee Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI, Christiardo Sihombing, melalui siaran pers, Minggu (9/8/2026), mengungkapkan bahwa kode-kode suara tersebut tersebar melalui grup WhatsApp menjelang pemilihan putaran pertama.

“Ini jadi indikasi terjadinya tekanan dan intimidasi terhadap cabang-cabang,” kata Chris.

Menurutnya, dugaan praktik tersebut bertentangan dengan semangat pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia (Luber), serta jujur dan adil (Jurdil).

Dari Ketua Presidium Merembet ke Ad Hoc

Dugaan kode suara ternyata tidak hanya muncul dalam pemilihan Ketua Presidium.

Kode serupa disebut terindikasi digunakan dalam pemilihan pimpinan panitia ad hoc.

Pesan yang beredar berbunyi:

“Kita pakai kode aja:
Pontianak: Maumere aja
Landak: Maumere Oke
Melawi: Maumere Gas
Sambas: Maumere Jaya
Sungai Raya: Maumere Kere
Bengkayang: Maumere Asik.”

Menurut Chris, pesan tersebut menjadi bagian dari bukti yang ditelusuri terkait dugaan penggunaan kode suara dalam pemilihan ad hoc.

“Bukti kode suara saat pemilihan putaran ad hoc yang kemudian memenangkan Saudara Rito Naga dari Cabang Maumere sebagai Pimpinan Ad-hoc,” ujar Chris.

Pola tersebut memunculkan pertanyaan baru. Apakah kode-kode tersebut hanya bentuk konsolidasi dukungan, atau digunakan sebagai alat untuk memastikan delegasi memberikan suara sesuai arahan?

“Delfis Ambon” dan Dugaan Arahan ke Depok

Dugaan lainnya datang dari Delegasi PMKRI Depok.

Chris menyebut adanya pengakuan bahwa Delegasi PMKRI Depok diarahkan oleh PMKRI Jakarta Pusat untuk mendukung Delfis A.D. Rettob dengan mencantumkan kode tertentu pada surat suara.

“Cabang Depok diarahkan oleh Cabang Jakpus untuk pilih Delfis, kodenya ‘Delfis Ambon’,” ucap Chris.

Keterangan tersebut semakin memperlebar sorotan terhadap proses pemilihan.

Sebab, apabila kode pada surat suara memang dimaksudkan untuk mengidentifikasi pilihan cabang, maka prinsip kerahasiaan suara menjadi persoalan serius yang perlu dijelaskan.

Bukan Sekadar Soal Siapa yang Menang

Skandal kode suara ini pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memperoleh suara terbanyak.

Persoalan utamanya adalah apakah setiap delegasi benar-benar bebas menentukan pilihan tanpa tekanan, intimidasi, atau mekanisme pengawasan terhadap suara mereka.

Terpilihnya Delfis Retoob sebagai Ketua Presidium pun kini berada di tengah sorotan atas berbagai dugaan tersebut.

Namun, seluruh tudingan tersebut tetap perlu diuji melalui bukti, klarifikasi pihak-pihak yang disebut, serta mekanisme resmi organisasi.

Jika dugaan kode suara terbukti, persoalannya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar strategi pemenangan kandidat.

Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pemilihan, tetapi kredibilitas proses demokrasi dalam forum tertinggi PMKRI.**