LABUAN BAJO — Simulasi penanganan unjuk rasa yang digelar Polres Manggarai Barat di tengah situasi keamanan Labuan Bajo yang relatif kondusif menuai sorotan. Aktivis sosial, Try Dedi, mempertanyakan urgensi latihan besar-besaran yang melibatkan 134 personel dan penggunaan kendaraan taktis Armoured Water Cannon (AWC).
Menurut Try Dedi, latihan kesiapsiagaan kepolisian memang penting. Namun, publik juga bisa menangkap pesan berbeda ketika aparat mempertontonkan skenario menghadapi massa yang memanas hingga tindakan pembubaran menggunakan kendaraan taktis.
“Latihan itu tentu penting untuk kesiapsiagaan aparat. Tetapi jangan sampai kegiatan seperti ini justru menimbulkan persepsi bahwa Labuan Bajo sedang menghadapi ancaman keamanan atau akan terjadi gejolak sosial,” kata Try Dedi, Senin (10/8/2026).
Ia menilai Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama Indonesia yang membutuhkan stabilitas, keamanan dan kenyamanan. Karena itu, setiap aktivitas aparat yang berpotensi membentuk persepsi mengenai ketidakamanan harus dikomunikasikan secara hati-hati.
“Labuan Bajo ini kota pariwisata. Pariwisata membutuhkan kondisi yang kondusif. Jangan sampai ada kesan Indonesia sedang tidak baik-baik saja, lalu Labuan Bajo seolah-olah sedang bersiap menghadapi demonstrasi besar,” ujarnya.
Try Dedi bahkan mempertanyakan apakah simulasi penanganan unjuk rasa tersebut merupakan respons terhadap adanya potensi gejolak tertentu atau semata-mata latihan rutin kepolisian.
“Biasanya latihan menghadapi demonstrasi dilakukan ketika ada potensi gejolak sosial atau situasi tertentu yang membutuhkan kesiapsiagaan ekstra. Pertanyaannya, apakah sekarang Labuan Bajo sedang menghadapi situasi seperti itu? Sepengetahuan saya, kondisi di Labuan Bajo masih aman-aman saja,” katanya.
Kapolres: Pastikan Personel Siap Hadapi Berbagai Situasi
Sementara itu, Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, menegaskan bahwa simulasi tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan operasional personel dalam menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.
“Kegiatan simulasi ini kami laksanakan sebagai bentuk pemetaan serta penerapan UU Kepolisian No. 5 Tahun 2026, tentang perubahan ketiga atas UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Perkap Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian dan Perkap Nomor 16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa,” ujar Christian dalam evaluasi kegiatan.
Menurutnya, kepolisian harus selalu siap menghadapi dinamika lapangan, baik ketika mengawal penyampaian pendapat yang berlangsung damai maupun ketika menghadapi situasi yang berpotensi mengalami eskalasi.
“Kami ingin memastikan kesiapsiagaan taktis seluruh personel Polres Manggarai Barat dalam menghadapi berbagai situasi kontinjensi unjuk rasa, sehingga kondusivitas wilayah hukum Manggarai Barat dan kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo tetap terjaga dengan aman,” katanya.
Dalam simulasi tersebut, polisi juga memperagakan tahapan penanganan aksi mulai dari pendekatan persuasif melalui tim negosiator hingga penggunaan Dalmas Lanjutan dan kendaraan taktis AWC ketika massa diskenariokan melakukan tindakan anarkis.
Christian juga mengingatkan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak warga negara yang mendapat perlindungan hukum, tetapi tetap harus dilakukan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.
“Selamat siang Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Sesuai Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998, kebebasan menyampaikan pendapat dijamin oleh Negara dan Saudara sekalian diberi perlindungan hukum,” kata Christian dalam simulasi tersebut.
Ia menambahkan bahwa penyampaian pendapat harus tetap menghormati norma, hak orang lain dan ketertiban umum.
“Namun demikian, penyampaian pendapat wajib menaati norma moral, menghargai kebebasan orang lain, menjaga Kamtibmas, serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Saya minta seluruh peserta aksi untuk tetap tertib dan tidak melakukan aksi anarkis,” tegasnya.
Try Dedi: Jangan Sampai Simulasi Jadi Sinyal yang Salah
Try Dedi mengatakan dirinya tidak mempersoalkan profesionalitas maupun kesiapsiagaan aparat kepolisian. Namun, ia meminta kepolisian juga memperhitungkan dampak komunikasi publik dari kegiatan tersebut.
“Kalau memang ini latihan rutin, sampaikan secara terbuka bahwa ini latihan rutin dan tidak berkaitan dengan adanya ancaman demonstrasi atau gejolak tertentu. Jangan sampai masyarakat menafsirkan sendiri,” katanya.
Menurut dia, pengerahan 134 personel, simulasi massa hingga penggunaan AWC dapat menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat jika tidak disertai penjelasan yang memadai.
“Polisi harus menjaga Kamtibmas, tetapi jangan membuat kegiatan yang justru melahirkan banyak dugaan bahwa Labuan Bajo sedang tidak baik-baik saja. Ini soal persepsi. Pariwisata sangat sensitif terhadap isu keamanan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Labuan Bajo sedang membangun citra sebagai destinasi wisata internasional. Stabilitas keamanan, kata dia, tidak hanya perlu dijaga secara faktual, tetapi juga melalui komunikasi publik yang tepat.
“Wisatawan tidak hanya melihat apakah ada kriminalitas atau tidak. Mereka juga melihat berita, video dan suasana di media sosial. Ketika yang muncul adalah aparat sedang latihan menghadapi demonstrasi, orang bisa bertanya: memang ada apa di Labuan Bajo?” ujarnya.
Try Dedi berharap Polres Manggarai Barat tetap meningkatkan kesiapsiagaan tanpa menciptakan persepsi adanya ancaman keamanan yang sebenarnya belum tentu terjadi.
“Jangan sampai kita ingin menunjukkan bahwa polisi siap menghadapi kerusuhan, tetapi yang muncul justru kesan bahwa Labuan Bajo sedang menuju kerusuhan. Itu yang harus dihindari,” pungkasnya.
Sebelumnya, Polres Manggarai Barat menggelar Simulasi Penanganan Unjuk Rasa di Lapangan Apel Mako Polres Manggarai Barat, Labuan Bajo, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.10 Wita tersebut dipimpin langsung Kapolres Manggarai Barat dan melibatkan 134 personel gabungan dari Sat Lantas, Sat Samapta, Sat Pamobvit, Sat Binmas, Sat Intelkam serta personel pengamanan Mako.
Dalam skenario latihan, sekitar 50 orang disimulasikan mendatangi Mako Polres untuk menyampaikan aspirasi. Situasi kemudian meningkat setelah massa melakukan aksi dorong dan pelemparan benda keras ke arah barisan pengamanan.
Polisi selanjutnya mengerahkan Dalmas Lanjutan yang didukung kendaraan taktis AWC untuk mengurai konsentrasi massa.
Seluruh rangkaian latihan kemudian diakhiri dengan konsolidasi internal untuk memastikan personel, sarana dan prasarana kepolisian berada dalam kondisi siap digunakan ketika menghadapi situasi kontinjensi.**


Tinggalkan Balasan