Oleh: Chellz Pahun

Festival Golo Koe (FGK) Bunda Maria Assumpta Nusantara 2026 memasuki hari terakhir. Festival religi yang telah memasuki tahun kelima ini patut diapresiasi karena berhasil menembus 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Pencapaian tersebut membanggakan. FGK tidak lagi sekadar menjadi agenda keagamaan lokal, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari kalender event pariwisata nasional yang mempertemukan iman, budaya, UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, dan ruang perjumpaan masyarakat.

Namun, semakin besar sebuah festival, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Dan di titik inilah FGK 2026 menyisakan pertanyaan serius: ketika FGK berbicara tentang keutuhan ciptaan dan ekologi, apakah cara festival ini diselenggarakan juga sudah mencerminkan pesan ekologis tersebut?

Pertanyaan ini penting justru karena FGK membawa identitas religius dan telah memperoleh pengakuan di tingkat nasional.

Tahun ini, FGK kembali mengangkat semangat keutuhan ciptaan, ekologi, dan ruang perjumpaan umat.

Tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Labuan Bajo hari ini. Pariwisata terus tumbuh. Event semakin banyak. Wisatawan berdatangan. Perputaran ekonomi meningkat.

Tetapi di balik pertumbuhan itu, persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah.

Karena itu, setiap event besar di Labuan Bajo tidak cukup hanya bertanya berapa banyak orang yang datang dan berapa besar uang yang berputar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak sampah yang dihasilkan? Berapa banyak plastik sekali pakai yang digunakan? Berapa banyak yang berhasil dikurangi? Dan ke mana sampah tersebut berakhir?

Di arena FGK 2026, terutama di kawasan bazar dan pameran UMKM, penggunaan plastik sekali pakai masih ditemukan.

Kemasan makanan, kantong plastik, gelas plastik, dan berbagai wadah sekali pakai masih menjadi bagian dari aktivitas ekonomi festival.

Di sinilah paradoks FGK terlihat.

Festival berbicara tentang keutuhan ciptaan, tetapi sebagian aktivitasnya masih menghasilkan pola konsumsi yang memperbesar persoalan sampah.

Ini bukan sekadar persoalan kebersihan. Ini menyangkut konsistensi antara pesan dan tindakan. Ekologisme tidak boleh berhenti sebagai slogan di panggung, spanduk, poster, atau materi promosi.

Ekologi harus terlihat dalam cara sebuah festival dirancang dan diselenggarakan. Persoalan plastik sebenarnya bukan isu yang baru muncul setelah festival berlangsung.

Beberapa waktu sebelum FGK digelar, persoalan penggunaan plastik telah saya sampaikan langsung kepada Romo Erick Ratu dalam sebuah kegiatan BPOLBF bersama media.

Saat itu, Romo Erick menyampaikan komitmen bahwa akan ada mekanisme untuk mengendalikan penggunaan plastik dalam pelaksanaan festival sebagai bentuk tindakan konkret terhadap semangat ekologis FGK.

Namun, dalam pelaksanaan FGK 2026, mekanisme tersebut belum terlihat secara kuat dan terukur di lapangan.

Maka pertanyaannya sederhana: di mana mekanisme pengendalian plastik yang pernah dijanjikan itu?

Jika komitmen ekologis berhenti pada pernyataan sebelum festival, sementara penggunaan plastik masih berlangsung seperti biasa, maka ekologisme FGK berisiko menjadi sekadar narasi.

Keuskupan Labuan Bajo sebagai penyelenggara seharusnya memiliki standar ekologis yang jelas. Bukan hanya mengimbau peserta menjaga kebersihan.

UMKM kuliner, misalnya, dapat diwajibkan menggunakan kemasan ramah lingkungan.

Plastik sekali pakai harus dibatasi atau secara bertahap dilarang. Panitia harus menyediakan sistem pemilahan sampah sejak dari sumber.

Setiap tenant juga harus bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Bahkan, penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat dijadikan salah satu syarat bagi UMKM untuk mengikuti festival.

Itulah tindakan ekologis yang konkret.

Sebab sangat mudah berbicara tentang menjaga bumi. Yang sulit adalah mengubah kebiasaan. FGK tentu boleh merayakan keberhasilan ekonominya.

Ribuan orang datang. UMKM bergerak. Transaksi meningkat. Uang berputar. Tetapi keberhasilan ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan festival.

Sebuah festival dapat sukses secara ekonomi sekaligus gagal secara ekologis.

Karena itu, indikator keberhasilan harus diperluas. Bukan hanya berapa banyak pengunjung. Tetapi juga berapa ton sampah yang dihasilkan.

Bukan hanya berapa besar transaksi UMKM. Tetapi juga berapa banyak plastik sekali pakai yang berhasil dikurangi.

Bukan hanya berapa besar perputaran ekonomi. Tetapi juga seberapa kecil jejak ekologis yang ditinggalkan.

Inilah ukuran keberlanjutan yang harus mulai dibicarakan secara terbuka.

Labuan Bajo sedang berada dalam sebuah paradoks. Di satu sisi, kota ini terus didorong menjadi destinasi pariwisata super prioritas, magnet wisatawan internasional, pusat investasi, dan lokasi berbagai event nasional.

Di sisi lain, persoalan sampah belum selesai. Karena itu, setiap event besar seharusnya menjadi laboratorium praktik pariwisata berkelanjutan.

Bukan justru menjadi mesin baru produksi sampah.

FGK memiliki peluang besar untuk membuktikan bahwa festival religi dapat menjadi bagian dari solusi ekologis Labuan Bajo.

Tetapi kesempatan itu hanya berarti jika ada keberanian mengubah tata kelola.

FGK bukan festival biasa. Ia membawa identitas religius Katolik. Ia membawa nama Bunda Maria. Ia juga membawa pesan tentang keutuhan ciptaan. Karena itu, tuntutan moralnya bahkan lebih besar.

Dalam semangat Laudato Si’, bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat.

Kerusakan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia mengonsumsi sumber daya dan memperlakukan alam.

Maka festival yang membawa nama Bunda Maria dan mengangkat keutuhan ciptaan semestinya mampu menunjukkan praktik nyata penghormatan terhadap rumah bersama itu.

Tidak cukup berbicara tentang Laudato Si’. FGK harus mempraktikkan semangat Laudato Si’.

Di sinilah teologi ekologis menemukan relevansinya. Alam bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia.

Ciptaan bukan sesuatu yang bebas dieksploitasi. Manusia dipanggil untuk menjadi penjaga ciptaan. Karena itu, merawat lingkungan bukan agenda tambahan dalam kehidupan menggereja.

Merawat ciptaan adalah bagian dari panggilan iman.

Saya berharap Keuskupan Labuan Bajo berani melakukan tobat ekologis. Bukan tobat dalam pengertian simbolik. Bukan sekadar doa, seminar, atau khotbah. Tetapi pertobatan yang diwujudkan melalui perubahan cara berpikir, cara merancang kegiatan, cara mengonsumsi sumber daya, dan cara memperlakukan lingkungan.

Jika sebuah festival menghasilkan terlalu banyak plastik, desain festival harus diubah. Jika sistem pengelolaan sampah belum berjalan, sistemnya harus dibenahi.

Jika UMKM masih bergantung pada plastik sekali pakai, harus ada mekanisme transisi menuju kemasan ramah lingkungan.

Jika tidak ada data mengenai volume sampah, maka mulai tahun depan data tersebut harus tersedia.

Iman harus menghasilkan perubahan. Dan perubahan itu harus dapat dilihat, diukur, serta dipertanggungjawabkan.

FGK 2026 boleh bangga karena masuk 10 besar KEN. Tetapi pengakuan tersebut jangan hanya menjadi alasan untuk memperbesar festival.

Jadikan itu alasan untuk menaikkan standar ekologis. Jika tahun kelima masih menyisakan persoalan plastik, maka tahun keenam harus menjadi titik balik.

Keuskupan Labuan Bajo harus berani menetapkan standar baru: FGK menuju festival bebas plastik sekali pakai.

Jika belum bisa dilakukan sekaligus, tetapkan target pengurangan plastik yang jelas dan terukur.

Berapa persen plastik dikurangi setiap tahun? Berapa tenant menggunakan kemasan ramah lingkungan? Berapa volume sampah yang berhasil dipilah? Berapa yang didaur ulang? Berapa yang akhirnya masuk ke tempat pembuangan akhir?

Dengan cara itu, slogan ekologis tidak lagi berhenti sebagai kata-kata. Ia berubah menjadi indikator kinerja.

FGK memiliki peluang menjadi lebih dari sekadar festival religi. FGK dapat menjadi model festival ekologis berbasis iman.

Festival yang membuktikan bahwa iman dan lingkungan bukan dua agenda berbeda. Festival yang menunjukkan bahwa ekonomi dapat bergerak tanpa harus mengorbankan lingkungan. Festival yang membuat UMKM tetap tumbuh tetapi sampah plastik berkurang.

Festival yang menghadirkan ribuan orang tetapi meninggalkan jejak ekologis seminimal mungkin. Inilah tantangan FGK setelah masuk kalender event nasional.

Bukan lagi sekadar bagaimana membuat festival semakin besar, semakin ramai, dan semakin menghasilkan uang.

Tetapi: bisakah FGK menjadi contoh bahwa festival religi dapat menggerakkan ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan?

Jika jawabannya belum, maka FGK 2026 harus menjadi bahan refleksi serius.

Inza Allah.**

Penulis : Jurnalis/Penulis buku Paradoks Pariwisata Labuan Bajo