NAGEKEO — Pemulihan anak dan remaja setelah gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya dilakukan dengan memastikan kegiatan belajar kembali berjalan. Kondisi psikologis dan rasa aman anak juga menjadi perhatian.

Mulai Selasa (8/9/2026), Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui PIA Nagekeo bersama Pemerintah Kabupaten Nagekeo memberikan layanan dukungan psikososial dan edukasi perlindungan anak di 20 sekolah tingkat SMP, SMA, dan SMK.

Program ini dilaksanakan bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDP3A), UPTD PPA Nagekeo, serta Politeknik St. Wilhelmus Boawae.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari respons pascagempa yang mengguncang Nagekeo pada 15 Agustus 2026. Selain menyebabkan kerusakan bangunan dan fasilitas umum, gempa juga berdampak terhadap kondisi emosional anak dan remaja.

Layanan psikososial dilakukan di tenda-tenda pembelajaran yang digunakan sekolah setelah gempa. Di ruang belajar sementara tersebut, anak-anak tidak hanya mengikuti kegiatan pendidikan, tetapi juga diajak bermain, berinteraksi, mengenali perasaan, dan mengekspresikan emosi mereka.

Pendekatan Psychosocial Support (PSS) digunakan untuk membantu anak menghadapi dampak emosional akibat bencana sekaligus membangun kembali rasa aman dan rutinitas mereka.

Kepala UPTD PPA Nagekeo, Riet Eka Lamury, mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas yang rusak.

“Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali fasilitas. Kita juga perlu memastikan anak merasa aman, didengar dan mendapatkan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Riet.

Edukasi Perlindungan Anak

Dukungan psikososial dalam kegiatan ini juga dipadukan dengan edukasi mengenai kesehatan mental, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), perilaku berisiko, serta pencegahan kekerasan terhadap anak dan remaja.

Materi disampaikan melalui kegiatan yang melibatkan peserta secara langsung. Anak dan remaja diajak mengenali situasi yang berisiko, memahami cara menjaga diri, mengelola emosi, serta mengetahui kepada siapa mereka dapat mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Edukasi tersebut dinilai penting karena kondisi pascabencana dapat membuat anak dan remaja berada dalam situasi yang lebih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan maupun persoalan sosial lainnya.

PIA Manager Plan Nagekeo, Cosmas Damianus, mengatakan program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, Plan Indonesia, dan mitra lainnya.

Menurut Cosmas, pemerintah daerah tetap menjadi pihak yang memimpin respons perlindungan anak dalam situasi darurat. Sementara itu, Plan Indonesia memberikan dukungan teknis, fasilitasi, dan penguatan koordinasi.

“Keterlibatan berbagai aktor dalam respons pascabencana ini merupakan bagian dari strategi penguatan Klaster Perlindungan dalam situasi emergensi yang tetap dipimpin oleh pemerintah daerah melalui Dinas PMDP3A,” kata Cosmas.

Ia menegaskan, kehadiran Plan Indonesia bukan untuk mengambil alih peran pemerintah, melainkan membantu memperkuat koordinasi dan pelaksanaan layanan perlindungan bagi anak dan kelompok rentan.

Dukungan Politeknik St. Wilhelmus Boawae juga diberikan melalui keterlibatan tim relawan dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah-sekolah.

Melalui program tersebut, pemulihan pascagempa di Nagekeo diharapkan tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan dan keberlanjutan pembelajaran.

Sekolah juga diharapkan menjadi ruang bagi anak untuk kembali membangun rutinitas, mendapatkan dukungan psikologis, memahami cara melindungi diri, serta merasa aman setelah mengalami bencana.