LABUAN BAJO – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Terra SparX Indonesia serta Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Penandatanganan dilakukan pada Jumat pagi, 30 Januari 2026, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Jakarta.

Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya penguatan sinergi lintas sektor antara pemerintah dan mitra swasta dalam mendukung pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan dan berbasis pemberdayaan masyarakat. Fokus kerja sama diarahkan pada pengembangan Kawasan Parapuar, kawasan pariwisata terpadu yang tengah dikembangkan BPOLBF di Labuan Bajo.

Dalam MoU tersebut, PT Terra SparX Indonesia menyatakan rencana investasi di Parapuar melalui pengembangan fasilitas pariwisata berbasis wellness dan sport tourism. Perusahaan yang bergerak di bidang properti dan lifestyle ini mengusung konsep ruang yang mengintegrasikan olahraga, kesehatan, dan gaya hidup aktif.

Beberapa fasilitas yang direncanakan antara lain High Life Glamping sebagai akomodasi berbasis alam terbuka, Ocean Club and Wellness yang memadukan klub pantai dan pusat kebugaran, serta Racquet Club sebagai sarana olahraga raket. Pengembangan ini direncanakan berlokasi di Lot M dan N Kawasan Parapuar.

Selain kerja sama dengan sektor properti dan lifestyle, BPOLBF juga menjalin kemitraan dengan Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq. Kopontren yang berbasis di Desa Ciburial, Ciwidey, Kabupaten Bandung ini dikenal mengembangkan sistem pertanian terpadu yang terhubung dengan pasar modern seperti supermarket, hotel, dan restoran.

Dalam kerja sama tersebut, Kopontren Al-Ittifaq menunjukkan minat untuk memperluas usaha ke Labuan Bajo melalui pengembangan konsep agrowisata. BPOLBF menawarkan potensi kawasan Parapuar sebagai lokasi pengembangan agrowisata, sekaligus penguatan rantai pasok pangan lokal bagi sektor pariwisata. Sebelumnya, kedua pihak telah bekerja sama dalam program pendampingan usaha melalui Pangan Floratama Academy.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata RI, Hariyanto, menyampaikan bahwa pengembangan Labuan Bajo dan Parapuar diarahkan tidak hanya sebagai destinasi unggulan, tetapi juga sebagai model pengembangan pariwisata nasional berdaya saing global.

“Pengembangan destinasi harus berjalan seiring dengan penguatan infrastruktur, diversifikasi produk wisata, serta pemenuhan rantai pasok pariwisata yang inklusif. Kawasan Parapuar kami harapkan menjadi magnet baru pariwisata Labuan Bajo dengan menawarkan keindahan alam perbukitan dan hutan,” ujar Hariyanto.

Ia menambahkan, pengembangan wellness dan sport tourism bersama PT Terra SparX merupakan respons terhadap tren quality tourism global yang berpotensi memperpanjang lama tinggal wisatawan. Pengembangan kawasan tersebut diharapkan dilakukan dengan konsep berdampak rendah terhadap lingkungan.

Terkait kerja sama dengan Kopontren Al-Ittifaq, Hariyanto menilai kolaborasi ini penting untuk menghubungkan sektor pariwisata dan pertanian melalui pengembangan edu-agrowisata serta penguatan rantai pasok lokal. Menurut dia, pariwisata tidak hanya menawarkan lanskap alam, tetapi juga memastikan kebutuhan pangan sektor pariwisata dipenuhi dari produksi lokal Flores.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyatakan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi landasan awal kolaborasi strategis dalam mendorong pengembangan pariwisata Labuan Bajo Flores yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Status Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas membawa peluang sekaligus tantangan. Karena itu, pembangunan pariwisata harus berfokus pada kualitas destinasi, keberlanjutan lingkungan, serta penguatan ekonomi lokal,” kata Andhy.

Ia menjelaskan, kerja sama dengan PT Terra SparX sejalan dengan arah pengembangan Parapuar sebagai kawasan hijau berbasis wellness dan gaya hidup sehat. Sementara kolaborasi dengan Kopontren Al-Ittifaq dinilai berperan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan agrowisata dan integrasi rantai pasok lokal.

 

Editor : Chellz