LABUAN BAJO – Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 kembali digelar di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada 10–15 Agustus 2026.

Festival yang masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata itu mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”

Kegiatan tersebut memadukan berbagai unsur, mulai dari spiritualitas, budaya, seni, aksi sosial, kepedulian terhadap lingkungan, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menilai Festival Golo Koe tidak sekadar menjadi perayaan keagamaan umat Katolik, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat, pelestarian budaya, edukasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi lokal, serta promosi destinasi wisata religi dan budaya di Flores.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, mengatakan festival tersebut menjadi contoh bagaimana pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, nilai spiritualitas, dan lingkungan.

“Festival Golo Koe menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga tentang makna perjalanan,” kata Andhy.

Menurut dia, tema yang diangkat dalam Festival Golo Koe 2026 mengajak seluruh pihak membangun kebersamaan untuk merawat keutuhan ciptaan sekaligus memperkenalkan Flores sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang berkualitas dan berkelanjutan.

Andhy menyebut Flores memiliki potensi pariwisata yang jauh lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan keindahan alam. Kekayaan tradisi, budaya lokal, serta nilai spiritual masyarakat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Tidak hanya dikenal melalui keindahan Taman Nasional Komodo, Flores juga memiliki kekayaan warisan budaya, tradisi, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujarnya.

Dorong Ekonomi Masyarakat

Penyelenggaraan Festival Golo Koe juga diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung dan tidak langsung bagi masyarakat.

Peningkatan kunjungan wisatawan selama festival berpotensi mendorong okupansi hotel dan akomodasi, aktivitas UMKM, kuliner, ekonomi kreatif, hingga penggunaan jasa transportasi lokal.

Karena itu, BPOLBF mendorong kolaborasi antara pemerintah, gereja, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat agar Festival Golo Koe dapat terus berkembang sebagai agenda tahunan yang memberikan manfaat lebih luas.

Kolaborasi tersebut melibatkan Keuskupan Labuan Bajo, pemerintah daerah, Kementerian Pariwisata, komunitas, pelaku usaha, serta berbagai elemen masyarakat.

Festival Golo Koe 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat citra Labuan Bajo Flores sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam, budaya, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat lokal.

Enam Hari Penuh Kegiatan

Selama enam hari penyelenggaraan, Festival Golo Koe menghadirkan berbagai kegiatan yang tersebar di sejumlah lokasi di Labuan Bajo.

Pada 10 Agustus, rangkaian kegiatan diawali dengan pameran UMKM ekonomi kreatif dan kuliner serta pentas seni budaya Nusantara.

Sehari kemudian, 11 Agustus, agenda dilanjutkan dengan Kebangunan Rohani Katolik (KRK), edukasi, dan aksi ekologis.

Pada 12 Agustus, masyarakat dapat mengikuti kegiatan sosial karitatif, Karnaval Budaya, serta Tarian Kolosal Maria Assumpta Nusantara.

Sementara pada 13 Agustus, festival menghadirkan Teater Budaya Manggarai dan pertunjukan Caci di Lapangan SMAK Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

Rangkaian utama festival berlanjut pada 14 Agustus melalui Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara.

Festival kemudian ditutup pada 15 Agustus dengan Misa Akbar Maria Assumpta Nusantara dan seremoni penutupan.

Melalui rangkaian tersebut, Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 diharapkan tidak hanya memperkuat persaudaraan dan kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan dan budaya.

Festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Labuan Bajo Flores sebagai destinasi pariwisata berkualitas yang mengedepankan keberlanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.**