LABUAN BAJO — Rencana investasi strategis yang diumumkan Danantara Indonesia bersama Qatar Investment Authority di Labuan Bajo mendapat respons positif dari Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).
Plt. Direktur Utama BPOLBF Andhy M.T. Marpaung menilai investasi tersebut dapat menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi Labuan Bajo Flores sebagai destinasi pariwisata kelas dunia sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif dan ekonomi masyarakat lokal di Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, masuknya investasi internasional menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap potensi Labuan Bajo sebagai salah satu kawasan pariwisata super prioritas Indonesia yang memiliki daya tarik alam, budaya, dan sektor kreatif yang terus berkembang.
“Investasi ini diharapkan mampu memberikan dampak luas, bukan hanya melalui pembangunan infrastruktur pariwisata, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperkuat rantai ekonomi lokal, dan menciptakan peluang usaha bagi masyarakat,” kata Andhy, Senin (18/5/2026).
BPOLBF menilai manfaat investasi harus dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, terutama pelaku UMKM, komunitas kreatif, nelayan, petani, hingga generasi muda yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata Labuan Bajo.
Selain pengembangan destinasi, BPOLBF juga menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam setiap proses pembangunan. Menurut Andhy, Labuan Bajo memiliki ekosistem pesisir, laut, dan daratan yang sensitif sehingga seluruh investasi harus dilakukan secara terukur dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.
Ia mengatakan, pembangunan kawasan wisata perlu disertai pengelolaan sampah dan limbah yang baik, perlindungan kawasan konservasi, ketersediaan air bersih, hingga penerapan prinsip pembangunan rendah emisi agar pertumbuhan pariwisata tidak merusak kekayaan alam yang menjadi daya tarik utama daerah tersebut.
“Keberhasilan investasi tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelestarian alam dan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Dalam mendukung penguatan ekonomi lokal, BPOLBF mendorong peningkatan kapasitas UMKM dan ekonomi kreatif melalui pelatihan digital marketing, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar produk lokal khas NTT seperti tenun, kriya, kuliner, dan produk kreatif lainnya.
BPOLBF juga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata menjadi kebutuhan penting agar masyarakat lokal mampu menjadi pelaku utama industri pariwisata. Pelatihan di bidang hospitality, manajemen wisata, pemandu wisata, dan pengelolaan usaha kreatif dinilai perlu terus diperkuat.
Selain itu, aspek keamanan dan keselamatan wisata juga menjadi perhatian dalam pengembangan destinasi. BPOLBF mendorong peningkatan mitigasi risiko melalui edukasi keselamatan wisata bahari, penguatan informasi cuaca dan kebencanaan, kesiapsiagaan destinasi menghadapi situasi darurat, hingga sertifikasi kompetensi keselamatan bagi pelaku wisata.
Sebelumnya, Danantara Indonesia bersama Qatar Investment Authority mengumumkan investasi strategis di Labuan Bajo yang difokuskan pada proyek pengembangan baru atau greenfield, termasuk pembangunan fasilitas pariwisata dari tahap awal.
Labuan Bajo sendiri dikenal sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia di mata dunia.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong investasi jangka panjang yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga memberi dampak terhadap pembangunan ekonomi nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Menurutnya, proyek tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan usaha lokal, hingga peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo Flores.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan