LABUAN BAJO — Persoalan sampah plastik mulai membayangi penyelenggaraan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 sejak hari pertama pelaksanaan, Senin (10/8). Festival yang berlangsung hingga 15 Agustus 2026 di Marina Waterfront City Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru memperlihatkan paradoks antara semangat menjaga keutuhan ciptaan dengan penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas festival.

Pada hari pertama, aktivitas kuliner menjadi salah satu titik yang paling terlihat dalam penggunaan kemasan plastik. Berbagai makanan dan minuman yang dijajakan menggunakan wadah, gelas, kantong, serta perlengkapan berbahan plastik sekali pakai.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Festival Golo Koe membawa pesan ekologis melalui semangat menjaga keutuhan ciptaan dan menyelamatkan ekologi.

Festival Golo Koe tahun ini melibatkan sedikitnya 160 UMKM, yang terdiri dari pelaku usaha kuliner, fashion, dan kriya. Besarnya jumlah UMKM tersebut tentu meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus berpotensi menambah volume sampah selama enam hari penyelenggaraan.

Yang menjadi persoalan, sejak festival pertama kali digelar lima tahun lalu hingga pelaksanaan tahun kelima ini, belum terlihat adanya mekanisme khusus dan terukur untuk mengendalikan penggunaan plastik sekali pakai.

Hari Pertama Jadi Peringatan Awal

Kondisi pada hari pertama semestinya menjadi alarm bagi penyelenggara. Jika penggunaan plastik tidak segera dikendalikan sejak awal, volume sampah berpotensi meningkat seiring bertambahnya aktivitas dan jumlah pengunjung hingga hari terakhir festival.

Aktivis sosial Try Deddy menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sekadar masalah kebersihan.

“Hari pertama seharusnya menjadi momentum untuk melihat apakah sistem pengelolaan sampah sudah berjalan. Kalau dari awal penggunaan plastik masih tinggi dan tidak ada mekanisme pengurangan yang jelas, ini harus segera dievaluasi,” ujar Try Deddy.

Menurut dia, keterlibatan 160 UMKM harus dibarengi dengan standar lingkungan yang jelas.

“Kita jangan hanya menghitung berapa UMKM yang terlibat dan berapa transaksi ekonomi yang dihasilkan. Kita juga harus menghitung berapa sampah yang dihasilkan dan bagaimana sampah itu dikelola,” katanya.

Ia mempertanyakan mengapa festival yang sudah memasuki tahun kelima belum memiliki standar khusus yang mengikat seluruh UMKM terkait penggunaan plastik.

“Selamatkan Ekologi” Jangan Hanya Slogan

Try Deddy menegaskan bahwa pesan menjaga keutuhan ciptaan harus diwujudkan melalui praktik nyata.

“Kalau kita bicara menyelamatkan ekologi, jangan hanya menjadi slogan. Harus ada tindakan nyata. Mulai dari kemasan makanan, pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah sampai pengolahan setelah festival, ujarnya.

Menurutnya, penyelenggara dapat membuat aturan sederhana tetapi terukur, seperti kewajiban menggunakan kemasan ramah lingkungan, pembatasan kantong plastik, penyediaan tempat sampah terpilah, serta pencatatan volume sampah harian.

Dengan begitu, kondisi hari pertama dapat menjadi baseline untuk mengukur keberhasilan pengelolaan sampah hingga festival berakhir pada 15 Agustus.

Lima Tahun Festival, Saatnya Berubah

Memasuki tahun kelima, Festival Golo Koe dinilai sudah seharusnya memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih matang.

Bukan hanya membersihkan sampah setelah kegiatan selesai, tetapi mengendalikan sampah sejak diproduksi.

“Festival ini sudah lima tahun. Jangan sampai setiap tahun festival semakin besar, tetapi persoalan sampahnya tetap sama. Kalau mau membawa nama pariwisata berkelanjutan dan keutuhan ciptaan, maka standar ekologinya juga harus naik, kata Try Deddy.

Ia mendorong penyelenggara membuka data mengenai jumlah sampah yang dihasilkan selama festival.

Data tersebut dinilai penting untuk menjawab pertanyaan sederhana: seberapa ramah lingkungan sebenarnya Festival Golo Koe?

Sebab, ukuran keberhasilan festival tidak cukup hanya dilihat dari jumlah UMKM, pengunjung, transaksi ekonomi, maupun kemeriahan acara.

Ada indikator lain yang tidak kalah penting: berapa banyak plastik yang digunakan, berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, berapa banyak yang dipilah dan didaur ulang, serta ke mana sisanya berakhir.

Festival Golo Koe berlangsung hingga 15 Agustus. Kondisi hari pertama karena itu menjadi ujian awal bagi komitmen ekologis penyelenggara.

Jika penggunaan plastik terus berlangsung tanpa pengendalian, maka pesan Selamatkan Ekologi berisiko berhenti sebagai slogan di tengah kemeriahan festival.**