LABUAN BAJO – Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, mencatat timbulan sampah mencapai 147,31 ton per hari pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh atau 57,16 persen telah berhasil dikelola dengan berbagai sarana yang disiapkan pemerintah daerah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertanahan Manggarai Barat, Vinsensius Gande, mengungkapkan, Pemkab telah menyediakan sarana memadai untuk mendukung pengelolaan sampah, seperti 10 dump truck, 7 arm roll roda enam (satu compactor truck rusak), dan 13 motor roda tiga untuk wilayah sulit dijangkau.

Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Warloka, tersedia fasilitas modern berupa landfill, excavator, hanggar alat berat, dua incenerator, serta alat berat lain untuk mendukung pengelolaan sampah.

Selain itu, Pemkab membangun 12 Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan 3 TPS3R di lokasi strategis seperti pasar, pelabuhan, bandara, PDU Labuan Bajo, IWP Wae Kelambu, dan KSU Sampah Komodo.

Berdasarkan analisis, rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar (45 persen), diikuti sektor komersial (25 persen) dan pariwisata (15 persen). Dari segi jenis sampah, sampah organik mendominasi (55 persen atau 80,81 ton/hari), diikuti plastik (25 persen atau 36,37 ton/hari).

Untuk mendukung pengelolaan lebih efektif, pemerintah akan mengevaluasi metode retribusi sampah untuk hotel, dari estimasi menjadi pengukuran langsung. Tarif retribusi ditetapkan Rp980.000 per kubik sesuai Perda Nomor 6 Tahun 2023, sementara rumah tangga dikenakan tarif berdasarkan meteran listrik mulai Rp3.000 hingga Rp49.000 per bulan.

Vinsensius menegaskan, visi Pemkab Manggarai Barat adalah menjadikan daerah bersih, hijau, dan berkelanjutan. Pihaknya berkomitmen meningkatkan sistem pengelolaan, edukasi masyarakat, serta fasilitas pendukung pengelolaan sampah.

 

Editor : Chellz