LABUAN BAJO – Pemerintah Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menata kawasan Batu Susun sebagai bagian dari pengembangan wisata desa. Kawasan ini berada satu hamparan dengan destinasi Batu Cermin di Desa Batu Cermin.
Batu Susun merupakan salah satu keajaiban alam yang memikat. Formasi batu yang tersusun secara alami menciptakan panorama unik dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam Flores dari sudut berbeda. Setiap lapisan batu menyimpan informasi tentang proses geologi, waktu, dan budaya masyarakat setempat.
Wisata Alam dan Edukasi
Batu Susun tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga pengalaman edukatif. Pengunjung dapat mempelajari proses terbentuknya batuan, mengenal flora dan fauna sekitar, serta memahami bagaimana masyarakat Desa Batu Cermin menjaga keseimbangan antara alam dan kehidupan sehari-hari.
Penataan Batu Susun dilakukan sebagai tindak lanjut dari pemetaan potensi desa yang mencakup bentang alam, jalur setapak alami, serta area terbuka yang dinilai memiliki potensi untuk kegiatan wisata berbasis alam. Kegiatan penataan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi lingkungan dan kemampuan sumber daya desa.
Kepala Desa Batu Cermin, Marianus Yono Jehanu, mengatakan pengembangan kawasan Batu Susun diarahkan untuk mendukung program wisata desa yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat.
“Pengembangan Batu Susun dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan memperhatikan kondisi lingkungan yang ada,” kata Marianus.
Menurut Marianus, pemerintah desa tidak membangun infrastruktur berskala besar di kawasan tersebut. Penataan difokuskan pada pembukaan dan perbaikan jalur akses, penataan titik pandang, serta pemeliharaan vegetasi yang sudah ada. Kegiatan tersebut dilakukan melalui kerja bersama antara pemerintah desa dan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, warga dilibatkan dalam kegiatan pembersihan area, penataan jalur, serta penanaman tanaman lokal. Proses perencanaan dilakukan melalui musyawarah desa untuk menentukan arah pengembangan kawasan dan pola pemanfaatannya.
Sejalan dengan penataan kawasan, pemerintah desa juga mendorong keterlibatan kelompok masyarakat dalam kegiatan ekonomi pendukung wisata.
Warga desa mulai menyiapkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hasil pertanian dan olahan lokal. Kelompok pemuda dilibatkan sebagai pemandu lokal, sementara peran Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) diarahkan sebagai pengelola kegiatan wisata.
“Kami menyiapkan Bumdes untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan wisata agar kegiatan ekonomi dapat dikelola secara kelembagaan,” ujar Marianus.
Pengembangan kawasan Batu Susun juga mendapat pendampingan dari pihak perguruan tinggi. Salah satunya melalui kegiatan Proyek Inisiatif 2024 Binus University yang dilaksanakan di Desa Batu Cermin.
Ketua Proyek Inisiatif 2024 Binus University, Lili Yulyadi, menyampaikan bahwa pihaknya memberikan masukan kepada pemerintah desa terkait pengembangan objek wisata dan penguatan kelembagaan ekonomi desa.
“Tujuan pendampingan adalah untuk memperdayakan Bumdes dan UMKM supaya berdaya saing internasional dan menjadikan Desa Batu Cermin sebagai salah satu sumber produk pariwisata di bawah OVOP (One Village One Product) di ASEAN,” kata Lili.
Penataan kawasan Batu Susun saat ini masih berlangsung. Pemerintah Desa Batu Cermin menyatakan pengembangan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana desa dan ketersediaan anggaran, dengan fokus pada pengelolaan kawasan wisata yang melibatkan masyarakat dan lembaga desa.
Editor : Chellz


Tinggalkan Balasan