

Dirjen Bimas Katolik, Suparman melakukan kunjungan lokasi lahan sebesar 10 hektar untuk pendirian Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) di Kelurahan Lape, Mbay Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT. Kunjungan ini menindaklanjuti penyerahan yang sudah dilakukan Pemda Nagekeo melalui Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Muga Sada, pada kepada Direktur Jenderal Bimas Katolik di Gedung Kementerian Agama, Jakarta Pusat, pada 20 April lalu.
Menurut Suparman, atas arahan Manteri Agama, Ia beserta jajarannya Direktorat Jendral Bimas Katolik merasa antusias dan segera turun ke lokasi merespon permintaan masyarakat melalui Pemda Nagekeo karena telah berkorban menyerahkan tanah seluas 10 hektar yang menjadi lahan terbesar di Indonesia untuk pendirian Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) demi sebuah lembaga pendidikan terpadu terintegrasi dibawah Dirjen Bimas Katolik.
” Kami apresiasi atas dukungan dan kerja sama serta kolaborasi Pemda Nagekeo dengan dengan dirjen. Ini merupakan usaha yang luar biasa, ” kata Suparman.
Suparman menegaskan bahwa luas lahan tersebut sangat memadai untuk pembangunan fasilitas pendidikan keagamaan Katolik yang terintegrasi.
Dirjen juga meminta seluruh jajaran terkait untuk mendukung percepatan pembangunan, dengan harapan proyek tersebut dapat segera direalisasikan jika kondisi anggaran memungkinkan.
Wakil Bupati Nagekeo menegaskan kesiapan Pemerintah Daerah dalam mendukung pembangunan, khususnya dalam penyediaan lahan. Ia menilai keberadaan sekolah tersebut akan menjadi salah satu solusi strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah.
“Sekolah ini adalah pintu masuk untuk pengentasan kemiskinan,” tegas Gonzalo.
PE-NEGERIAN SMAK DI WOLOSAMBI
Selain mengunjungi lokasi lahan 10 Hektar di Lape, Mbay, Dirjen Suparman juga mengunjungi SMAK St Yohanes Baptisata di Wolosambi, pada Rabu (20/5) di Kecamatan Mauponggo dalam usaha pe-negerian sekolah ini yang selama 10 tahun berdiri dalam kondisi keterbatasan.
Suparman mengatakan Uskup Agung Ende dalam pertemuannya juga telah berkomitmen dan menyerahkan lahan sekolah SMAK St. Yohanes Baptista di Wolosambi agar secepatnya bisa menjadi sekolah di bawah Dirjen Bimas Katolik. Ia mengungkapkan bila semua prosedur administrasi telah dilakukan tentunya semua pendanaan yang berkaitan dengan sarana prasarana, kesejahteraan guru dan hak siswa menjadi tanggung jawab Dirjen Bimas Katolik. Usaha ini untuk menjawabi perhatian pemerintah dalam membantu sekolah-sekolah Katolik di NTT.
” Hari ini kami juga mengunjungi SMAK St. Yohanes Baptista Wolosambi dan bapak uskup sudah menyerahkan lahannya agar bisa dikelola menjadi sekolah negeri di bawah Dirjen Bimas Katolik, setelah prosedur administrasi resmi menjadi milik pemerintah semua selesai tentunya semua menjadi tanggung jawab kami seperti pendanaan sarana prasarana, kesejahteraan guru, dan hak siswa, ” katanya.
Ia berharap dengan penegerian SMAK ini maka kualitas pendidikan di sekolah ini sudah pasti mengikuti standar prosedur SMAK dibawah Dirjen Bimas Katolik .
Suparman juga menekankan untuk kedepannya penting untuk peningkatan kualitas pendidikan yang bisa membuat orang tua tertarik untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.
” Untuk para guru, para orang tua beban pembiayaan diambil alih pemerintahan dan percaya pada kami output siswa ini akan mengikuti pola dimana imannya dididik oleh pihak gereja dan kurikulumya oleh pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik, ” pungkasnya.
Kunjungan tersebut turut didampingi Wakil Bupati Nagekeo, Direktur Pendidikan Katolik, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hadir pula Kepala Desa Sawu Fridus Ndona, Para tokoh adat dan masyarakat, Para guru dan Kepala Sekolah di Mauponggo serta Ketua Alumni Seminari Mataloko (Alsemat), Rano Aoh.
Berdasarkan data per Mei 2026, jumlah penduduk Kabupaten Nagekeo mencapai 170.669 jiwa, dengan sekitar 87,31 persen beragama Katolik. Kondisi ini dinilai mendesak untuk diperlukannya pembangunan pusat pendidikan keagamaan Katolik negeri yang terintegrasi guna menunjang kebutuhan masyarakat.
Ditjen Bimas Katolik saat ini tengah menyusun grand design pendidikan keagamaan Katolik sesuai harapan Pemerintah Daerah, Gereja, dan masyarakat setempat.
Direktur Pendidikan Katolik Albertus Triyatmojo, menjelaskan bahwa konsep pendidikan yang dirancang akan mengintegrasikan kurikulum umum dan keagamaan, serta menerapkan sistem berasrama.
Model pendidikan ini mengusung prinsip berpusat pada Kristus, bersifat holistik ( Fides, Mores, et Intellectus ), serta integratif antara sekolah, asrama, dan pembinaan spiritualitas. Output yang diharapkan adalah lahirnya generasi Katolik yang beriman serta berkarakter Kristiani yang kuat, berlandaskan nilai iman, harapan, dan kasih.
Bimas Katolik menargetkan tahap implementasi pembangunan dan operasional lembaga pendidikan ini dapat berlangsung pada periode 2028 hingga 2030, dengan harapan seluruh dukungan proses berjalan lancar sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat Nagekeo.
AIR MATA, DAN HARAPAN MENUJU SMAK NEGERI

Menurut Kepala Sekolah SMAK St. Yohanes Baptista Wolosambi, Yunius Sirilus Sugi Meko, kunjungan Dirjen Bimas Katolik ini menjadi tanda perhatian, penguatan, dan harapan baru bagi umat ditengah keterbatasan hingga menyalakan kembali keyakinan bahwa perjuangan panjang yang kami tempuh tidaklah sia-sia.
Menurut Yunius, sekolah ini berdiri bukan hanya karena bangunan dan administrasi, tetapi karena cinta dan pengorbanan banyak pihak. Ada doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian gereja, ada air mata para guru yang tetap setia mengabdi dalam keterbatasan, ada harapan orang tua yang ingin anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak, dan ada tekad masyarakat kecil yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Bagi Yunius SMAK ini tumbuh dari semangat pelayanan gereja dan kerinduan masyarakat akan hadirnya Sekolah Katolik yang mampu membentuk generasi beriman, cerdas, dan berkarakter.
” Dalam perjalanan panjangnya, banyak tangan telah bekerja tanpa pamrih. Para pastor, suster, guru, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, alumni, dan umat bergandengan tangan memperjuangkan agar sekolah ini dapat terus hidup dan berkembang.
Perjuangan menuju penegerian sekolah ini bukanlah perjalanan singkat. Bertahun-tahun berbagai pihak berupaya dengan segala kemampuan yang ada, ” ungkapnya.
Oleh karena itu, melalui kunjungan ini, Yunius berharap Direktur Jenderal Bimas Katolik beserta seluruh jajaran pemerintah agar berkenan mendukung dan mempercepat proses penegerian SMAK St Yoh Baptista Wolosambi.
Harapan ini bukan semata-mata demi status administratif, melainkan demi masa depan generasi muda yang haus akan pendidikan berkualitas, demi pemerataan pendidikan Katolik, dan demi terwujudnya pelayanan pendidikan yang lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan zaman.
” Kami yakin, apabila proses ini dapat segera terealisasi, maka akan terbuka kesempatan yang lebih besar bagi anak-anak di wilayah ini untuk memperoleh pendidikan yang layak tanpa harus meninggalkan tanah kelahiran mereka. Penegerian sekolah ini juga akan menjadi tanda nyata kehadiran pemerintah dalam mendukung karya pendidikan Gereja dan memperhatikan masyarakat di daerah terpencil, ” pungkas Yunius mantan Alumni Seminari Mataloko itu dengan senyum ramah.


Tinggalkan Balasan